Keistimewaan Bulan Zulqa’dah: Bulan Damai, Bulan Persiapan Diri Menyambut Ibadah

Keistimewaan Bulan Zulqa’dah
Sumber :
  • Istimewa

Bandar Lampung, Lampung – Zulqa’dah adalah bulan kesebelas dalam kalender Hijriah yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam ajaran Islam

img_title Rakernas XVIII APEKSI, Wali Kota Eva Dwiana Unjuk Gigi Kenalkan Budaya Bandar Lampung di Medan

Termasuk dalam deretan empat bulan haram bersama Rajab, Zulhijah, dan Muharram, Zulqa’dah hadir sebagai waktu yang dipenuhi nilai-nilai kedamaian, penghormatan, dan pengendalian diri.

Nama “Zulqa’dah” berasal dari bahasa Arab “Dzul Qa’dah”, yang secara harfiah berarti “pemilik gencatan senjata” atau “waktu duduk diam.” Sebutan ini merujuk pada tradisi bangsa Arab pra-Islam yang menghentikan seluruh bentuk peperangan selama bulan ini. 

img_title DPD PDIP Lampung Lepas Tiga Juara Fatmawati Trophy ke Tingkat Regional

Tradisi itu kemudian dilestarikan dalam Islam sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai ketenteraman, dan sekaligus menjadi masa persiapan untuk menyambut ibadah haji.

Bagian dari Asyhur al-Hajj

img_title Kondisi Memprihatinkan, Masjid Agung Al-Jami Kotabumi yang Bersejarah Kini Seolah Terlupakan

Zulqa’dah, bersama dengan bulan Syawal dan sepuluh hari pertama Zulhijah, termasuk dalam asyhur al-hajj — bulan-bulan yang dimuliakan sebagai masa pelaksanaan dan persiapan ibadah haji. 

Bulan ini, bersama Syawal dan sebagian Zulhijah, termasuk dalam asyhur al-hajj (bulan-bulan haji), sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan tertentu, barang siapa yang memantapkan niatnya dalam bulan itu akan (untuk) mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan pada saat mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Menurut tafsir Ibnu Katsir, asyhur al-ma’lumat merujuk pada bulan Syawal, Zulqa’dah, dan sepuluh hari pertama Zulhijah. Dalam periode ini, umat Islam mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji.

Larangan terhadap rafats (perkataan kotor), fusuq (perbuatan dosa), dan jidal (perselisihan) menegaskan bahwa haji bukan sekadar ritual fisik, melainkan juga perjalanan batin untuk mendekat kepada Allah dengan penuh ketakwaan.

Zulqa’dah dan Praktik Rasulullah SAW

Keistimewaan Zulqa’dah tidak hanya terletak pada statusnya sebagai bulan haram dan bagian dari asyhur al-hajj, tetapi juga pada praktik Rasulullah SAW. 

Ibnu Rajab dalam Latha’if al-Ma’arif menyebutkan bahwa Rasulullah sering melaksanakan umrah pada bulan-bulan haji, termasuk Zulqa’dah, selain umrah yang digabungkan dengan haji (haji qiran).

Halaman Selanjutnya
img_title