Inflasi Ramadan di Lampung Melandai, Harga Tetap Terkendali
- Foto Dokumentasi Istimewa
Lampung – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat laju inflasi pada Maret 2026 tetap terkendali, meskipun berlangsung pada periode Ramadan yang umumnya diikuti kenaikan harga.
Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,19 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Maret tahun lalu yang mencapai 1,96 persen.
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung, M. Sabiel A.P, mengatakan tekanan harga pada bulan ini relatif moderat.
“Secara umum, inflasi masih terkendali meskipun ada peningkatan permintaan selama Ramadan,” kata dia.
Jika dirinci, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mencatat inflasi tertinggi secara bulanan sebesar 1,11 persen.
Namun, kontribusinya terhadap inflasi umum relatif kecil. Sebaliknya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,31 persen justru menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi dengan andil 0,10 persen.
Komoditas pangan masih menjadi penggerak utama. Daging ayam ras menyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,05 persen, disusul bensin, telur ayam ras, beras, dan vitamin.
Di sisi lain, penurunan harga cabai merah yang mencatat deflasi hingga -0,09 persen menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi, bersama komoditas lain seperti celana panjang jeans pria, tomat, obat gosok, dan emas perhiasan.
Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi terdalam sebesar 0,49 persen, yang turut meredam tekanan inflasi secara keseluruhan.
Secara tahunan, inflasi di Lampung pada Maret 2026 tercatat sebesar 1,16 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,58 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 9,55 persen, namun kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,03 persen.
Dari sisi komoditas, tarif listrik menjadi penyumbang utama inflasi tahunan, diikuti emas perhiasan, daging ayam ras, beras, serta sigaret kretek mesin.
Adapun faktor penahan inflasi berasal dari tarif pendidikan, seperti sekolah menengah atas dan sekolah menengah pertama, serta komoditas pangan seperti bawang putih, cabai merah, dan bawang merah.
BPS juga mencatat disparitas inflasi antarwilayah. Secara tahunan, Kota Metro mencatat inflasi tertinggi sebesar 1,62 persen, sedangkan Kabupaten Lampung Timur terendah sebesar 1,05 persen.