Operasi Pasar hingga Kerja Sama Antardaerah Jadi Andalan BI Jaga Harga Pangan di Lampung

Ilustrasi
Sumber :
  • Foto Dokumentasi Riduan

LampungBank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung memperkuat berbagai langkah pengendalian harga pangan untuk menjaga inflasi tetap terkendali hingga akhir 2026.

img_title Inflasi Lampung Melandai, Kenaikan BBM Non-Subsidi Masih Jadi Pemicu Utama

Upaya tersebut dilakukan di tengah masih adanya risiko kenaikan harga akibat cuaca, pasokan pangan, hingga gejolak ekonomi global.

 

img_title Haul Bung Karno di Lampung, PDIP Singgung Harga Pokok, Pendidikan, dan Program MBG

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, mengatakan pengendalian inflasi dilakukan melalui empat strategi utama, yakni menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi kepada masyarakat.

 

img_title Dari Bekas Tambang Batu Menjadi Wisata Edukasi, Lembah Suhita Ajak Pengunjung Belajar Mencintai Alam

"Koordinasi antarinstansi akan terus diperkuat agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat tetap terjaga," kata Bimo dalam keterangan tertulis, Jumat, 3 Juli 2026.

 

Sejumlah langkah telah dijalankan, antara lain operasi pasar beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), penguatan kerja sama antardaerah, optimalisasi distribusi pangan melalui BUMD dan Perum BULOG, serta pemanfaatan sistem informasi pangan berbasis digital.

 

BI memperkirakan inflasi Lampung hingga akhir 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen secara tahunan. Namun, sejumlah risiko masih membayangi stabilitas harga.

 

Pada kelompok pangan bergejolak (volatile food), BI mewaspadai dampak rendahnya realisasi tanam pada Maret 2026 akibat curah hujan tinggi serta potensi cuaca kering dan transisi menuju El Nino lemah pada semester II tahun ini.

 

Sementara itu, dari kelompok administered prices, tekanan inflasi berpotensi berasal dari kenaikan harga BBM akibat meningkatnya tensi geopolitik global serta dampak lanjutan penyesuaian tarif Tol Bakauheni–Terbanggi Besar terhadap biaya transportasi antarkota.

 

Sebelumnya, inflasi Provinsi Lampung pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,55 persen secara bulanan (month to month/mtm), melambat dibandingkan Mei yang mencapai 0,82 persen. Secara tahunan, inflasi Lampung berada di level 2,46 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34 persen.

 

Inflasi Juni terutama dipicu kenaikan harga bensin setelah penyesuaian harga BBM non-subsidi. Selain itu, kenaikan harga bawang merah, tomat, bawang putih, dan minyak goreng turut memberikan andil terhadap laju inflasi. (*)