Suara Perempuan Pekerja Menggema di Jantung Kota Bandar Lampung

Aksi damai hari buruh di Bandar Lampung
Sumber :
  • Foto Dokumentasi Riduan

Lampung – Suara lantang ratusan buruh perempuan menggema di pusat Kota Bandar Lampung pada peringatan Hari Buruh Internasional, Kamis (1/5/2025). 

img_title Jasad Bayi Perempuan Ditemukan dalam Karung Beras di Pahoman, Polisi Ringkus ART Terduga Pelaku

 

Mereka bukan sekadar berorasi, tapi membawa harapan besar akan kesejahteraan bagi keluarga dan masa depan yang lebih adil.

img_title Sengketa PT San Xiong Steel Memanas, Kuasa Hukum Finny Fong Gugat Polda Lampung di PN Tanjung Karang

 

Aksi ini dipusatkan di kawasan Tugu Adipura dan diikuti oleh buruh yang tergabung dalam Pusat Perjuangan Rakyat Lampung (PPRL). 

img_title Terekam CCTV Menelepon Lalu Lompat ke Laut, Penumpang KMP Kirana II asal Bandar Lampung Hilang di Selat Sunda

 

Meski terik matahari menyengat, para perempuan pekerja tetap semangat menyuarakan tuntutan.

 

Mayoritas peserta aksi adalah para ibu yang sehari-hari bekerja di sektor informal dan industri padat karya. 

 

Mereka tak hanya menuntut kenaikan upah, tetapi juga menolak keberadaan Undang-Undang Cipta Kerja yang dinilai merugikan kaum buruh, terutama perempuan.

 

"Upah kami jauh dari layak. Belum lagi jaminan kesehatan yang tidak manusiawi. Kami ingin diperlakukan adil, bukan terus-menerus berada dalam dilema: memilih antara mencari nafkah atau mempertaruhkan nyawa," ujar Nur Saidah, salah satu buruh perempuan peserta aksi.

 

Senada dengan itu, Marliah, buruh lainnya, menyampaikan harapannya agar pemerintah benar-benar mendengar suara buruh, terutama perempuan yang selama ini kerap terpinggirkan dalam kebijakan ketenagakerjaan.

 

"Kami ini tulang punggung keluarga juga. Jangan hanya dilihat sebagai angka statistik. Kami butuh kepastian hidup, bukan janji-janji kosong," tegasnya.

 

Aksi damai ini berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Para buruh berharap, suara mereka kali ini benar-benar didengar oleh pemangku kebijakan, bukan sekadar menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan nyata. (*)