Dosen Itera di Lampung Temukan Senyawa Potensial Antikanker Serviks

Penelitian inovatif dari dosen Program Studi Kimia, Fakultas Sains
Sumber :
  • Foto dokumentasi istimewa

Lampung – Penelitian inovatif dari dosen Program Studi Kimia, Fakultas Sains, Institut Teknologi Sumatera (Itera), kembali menarik perhatian. 

img_title Dongkrak Nilai Singkong, Mocaf Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Desa

 

Dr. Rahmat Kurniawan yang tergabung dalam Kelompok Keilmuan Kimia Hayati, menemukan senyawa Kuwanon J dari tumbuhan murbei (Morus shalun) yang berpotensi menjadi agen antikanker serviks.

img_title Rakernis Reskrim Polda Lampung 2026: Dr. Benny Karya Limantara Tekankan Paradigma Baru Penyidikan Modern

 

Penemuan tersebut dipresentasikan dalam kegiatan Mimbar Akademik Fakultas Sains Itera yang digelar pada Jumat, 4 Juli 2025, di Aula Gedung F. 

img_title Rektor Baru Itera Prof Elfahmi Prioritaskan Infrastruktur, SDM, dan Riset pada 100 Hari Pertama

 

Acara ilmiah ini dihadiri sivitas akademika Fakultas Sains Itera, termasuk Dekan Dr. Ikah Ning Prasetiowati Permanasari. 

 

Dr. Rahmat menjelaskan bahwa Kuwanon J merupakan senyawa adduct Diels-Alder yang diperoleh melalui proses biotransformasi menggunakan enzim Diels-Alderase. 

 

Dalam uji awal, senyawa ini menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker serviks. 

 

“Tumbuhan Morus shalun menghasilkan senyawa golongan fenolik dengan rantai isoprenil yang menjadi prekursor pembentukan cincin metil sikloheksena,” paparnya.

 

Tumbuhan murbei, yang berasal dari famili Moraceae, dikenal luas di Indonesia dan tumbuh subur di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Asia Tengah dan Nusantara.

 

Tak hanya fokus pada murbei, Dr. Rahmat juga aktif meneliti senyawa antikanker dari berbagai tanaman lokal lain, seperti Paclitaxel dari cemara gunung (Taxus sumatrana), phytosterol dari bakau minyak (Rhizophora apiculata), amyrin dari sikat botol (Callistemon citrinus), dan lapachol dari tabebuya (Tabebuia aurea).

 

Ia menegaskan pentingnya eksplorasi keanekaragaman hayati lokal untuk pengembangan obat yang lebih aman. 

 

“Senyawa alami cenderung memberikan efek samping yang lebih rendah dibandingkan obat sintetik,” ujar Dr. Rahmat.

 

Sementara itu, Dekan Fakultas Sains Itera, Dr. Ikah Ning Prasetiowati Permanasari, menyampaikan bahwa Mimbar Akademik menjadi ruang penting untuk menguatkan budaya diskusi ilmiah dan mendorong kolaborasi antar peneliti. 

 

“Forum ini adalah wadah untuk saling berbagi ide dan menjajaki potensi penelitian yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya dalam sambutan.

 

Acara diakhiri dengan sesi diskusi interaktif yang diharapkan dapat memperkuat semangat riset, mendorong inovasi, serta membuka peluang kerja sama lintas disiplin untuk mendukung kemajuan sains dan teknologi, khususnya di bidang kesehatan dan farmasi berbasis potensi lokal. (*)