Semangat Kartini dari Asrama TNI
- Foto dokumentasi istimewa
Lampung – Di tengah penugasan prajurit Batalyon Infanteri 143/Tri Wira Eka Jaya yang menjalankan Satgas Pamtas Statis di wilayah Papua, para istri prajurit di Lampung memilih tetap produktif.
Mereka mengisi waktu dengan mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kain tapis, sekaligus melestarikan budaya daerah.
Para istri prajurit yang tergabung dalam Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXIV Yonif 143 memanfaatkan waktu di asrama untuk belajar dan mengembangkan kerajinan tapis.
Dengan benang emas, mereka menyulam berbagai motif khas Lampung seperti gajah, kapal, dan siger.
Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXIV Yonif 143, Nyonya Novla, mengatakan kegiatan tersebut muncul dari inisiatif para istri prajurit yang tengah ditinggal bertugas oleh suami mereka.
“Saat ini karena kebetulan kami sedang ditinggal penugasan oleh para suami, kami berusaha membuat aktivitas positif bagi seluruh istri prajurit, salah satunya dengan belajar menapis,” kata Novla.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut didukung oleh salah satu anggota Persit yang memiliki keahlian khusus di bidang menapis.
“Kami memiliki satu orang istri prajurit yang memiliki keahlian menapis, sehingga kami meminta bantuannya untuk mengajarkan kepada anggota lainnya,” kata dia.
Selain tapis, para anggota Persit juga mengembangkan kerajinan lain seperti makrame, serta memanfaatkan sisa kain tapis menjadi produk serbaguna. Di antaranya tempat tisu, kalung, hingga bros bernuansa tapis.
Menurut Novla, pemilihan tapis sebagai fokus kegiatan bukan tanpa alasan. Selain sebagai produk ekonomi, tapis juga merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan.
“Kain tapis adalah kain khas Lampung. Kami ingin memperkenalkannya kepada masyarakat luas sekaligus menjaga agar tetap dikenal oleh generasi mendatang,” kata dia.
Produk-produk tersebut dipasarkan melalui bazar yang diselenggarakan berbagai pihak, serta dipromosikan saat ada kunjungan pejabat ke satuan.
Salah satu anggota Persit, Asri, mengaku telah menekuni usaha tapis selama sekitar tiga tahun. Ia juga aktif mengajarkan keterampilan tersebut kepada anggota lainnya.
“Di Persit ada kegiatan mengajarkan ibu-ibu cara menapis supaya ada aktivitas positif di asrama,” kata Asri, istri Kopda Angga Dwi Ferdian.