Semangat Kartini dari Asrama TNI

Proses pembuatan tapis
Sumber :
  • Foto dokumentasi istimewa

Lampung – Di tengah penugasan prajurit Batalyon Infanteri 143/Tri Wira Eka Jaya yang menjalankan Satgas Pamtas Statis di wilayah Papua, para istri prajurit di Lampung memilih tetap produktif. 

img_title Dikerumuni Emak-emak di Lampung Tengah, Jokowi Borong Keripik Pisang hingga Serap Aspirasi Jalan Rusak

 

Mereka mengisi waktu dengan mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kain tapis, sekaligus melestarikan budaya daerah.

img_title Kelola 14 Ruas, Hutama Karya Catatkan Lonjakan Laba Positif Bisnis Jalan Tol Trans Sumatra

 

Para istri prajurit yang tergabung dalam Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXIV Yonif 143 memanfaatkan waktu di asrama untuk belajar dan mengembangkan kerajinan tapis. 

img_title Perkuat Ekonomi Daerah, TPAKD Lampung Evaluasi Program Inklusi Keuangan Semester I 2026

 

Dengan benang emas, mereka menyulam berbagai motif khas Lampung seperti gajah, kapal, dan siger.

 

Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXIV Yonif 143, Nyonya Novla, mengatakan kegiatan tersebut muncul dari inisiatif para istri prajurit yang tengah ditinggal bertugas oleh suami mereka.

 

“Saat ini karena kebetulan kami sedang ditinggal penugasan oleh para suami, kami berusaha membuat aktivitas positif bagi seluruh istri prajurit, salah satunya dengan belajar menapis,” kata Novla.

 

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut didukung oleh salah satu anggota Persit yang memiliki keahlian khusus di bidang menapis.

 

“Kami memiliki satu orang istri prajurit yang memiliki keahlian menapis, sehingga kami meminta bantuannya untuk mengajarkan kepada anggota lainnya,” kata dia.

 

Selain tapis, para anggota Persit juga mengembangkan kerajinan lain seperti makrame, serta memanfaatkan sisa kain tapis menjadi produk serbaguna. Di antaranya tempat tisu, kalung, hingga bros bernuansa tapis.

 

Menurut Novla, pemilihan tapis sebagai fokus kegiatan bukan tanpa alasan. Selain sebagai produk ekonomi, tapis juga merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan.

 

“Kain tapis adalah kain khas Lampung. Kami ingin memperkenalkannya kepada masyarakat luas sekaligus menjaga agar tetap dikenal oleh generasi mendatang,” kata dia.

 

Produk-produk tersebut dipasarkan melalui bazar yang diselenggarakan berbagai pihak, serta dipromosikan saat ada kunjungan pejabat ke satuan.

 

Salah satu anggota Persit, Asri, mengaku telah menekuni usaha tapis selama sekitar tiga tahun. Ia juga aktif mengajarkan keterampilan tersebut kepada anggota lainnya.

 

“Di Persit ada kegiatan mengajarkan ibu-ibu cara menapis supaya ada aktivitas positif di asrama,” kata Asri, istri Kopda Angga Dwi Ferdian.

Halaman Selanjutnya
img_title