Menhan Tekankan Kesiapan Tempur dan Peran Sosial Batalyon di Lampung

Menhan saat melakukan kunjungan
Sumber :
  • Foto dokumentasi istimewa

LampungMenteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menempuh dua markas batalyon di Lampung dalam sehari. 

img_title Iran Konfirmasi Wafatnya Ali Khamenei dan Sejumlah Petinggi Militer IRGC

 

Kamis, 26 Februari 2026 memulai kunjungan di Anak Tuha, Lampung Tengah, meninjau kesiapsiagaan Yonif TP 848/Satya Pandya Cakti. Siangnya, agenda berlanjut ke Yonif TP 892/Vikasa Sena di Way Tuba, Way Kanan. 

img_title Sambut Ramadan, Brigif 6 Kostrad Gelar Bakti Sosial 'Door to Door' di Sukoharjo

 

Di dua lokasi itu, pesan yang ia tekankan serupa: prajurit harus siap tempur, tetapi juga relevan bagi masyarakat.

img_title Panen 60 Ton Kedelai di Lampung Utara, Menhan Sjafrie: Indonesia Siap Rebut Swasembada Kedelai

 

Di markas Yonif TP 848, Sjafrie menyaksikan keindahan fisik dan bela diri militer. Prajurit menampilkan latihan senam, disusul kemampuan karate, taekwondo, muay thai, pencak silat militer, hingga tinju. 

 

Atraksi itu bukan sekadar pertunjukan seremonial. Bagi Kementerian Pertahanan, pelatihan fisik dan disiplin menjadi fondasi kesiapan menghadapi spektrum ancaman yang kian beragam.

 

Namun, paparan memerintahkan batalyon menunjukkan wajah lain satuan tempur. Di lahan sekitar markas, prajurit mengelola kebun jagung dan tebu, mengembangkan peternakan kambing untuk kebutuhan sosial dan keagamaan, serta membudidayakan ayam petelur. 

 

Program tersebut menjamin menopang ketahanan wilayah sekaligus membangun hubungan sosial dengan warga negara.

 

Sjafrie menilai pendekatan itu sejalan dengan konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). 

 

Ia menggerakkan patroli bermotor bersenjata dengan sistem berpasangan atau buddy system sebagai langkah preventif dalam menangani potensi gangguan keamanan, seperti begal dan peredaran narkoba.

 

“Kehadiran satuan harus mempersepsikan rakyat sebagai pelindung dan pengayom. Dengan demikian, tumbuhlah rasa memiliki dari masyarakat terhadap TNI,” ujar Sjafrie di hadapan prajurit.

 

Ia juga menekankan pelatihan satuan tempur berbasis tipologi wilayah. Prajurit, kata dia, tidak hanya dituntut cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kesanggupan untuk hadir dan mengabdi di tengah masyarakat.

 

Di Way Tuba, narasi serupa mengemuka. Komandan Yonif TP 892/Vikasa Sena memaparkan dampak kehadiran batalyon terhadap lingkungan sekitar. 

 

Ia menyebut terjadi peningkatan rasa aman yang ditandai dengan menurunnya aksi begal dan peredaran narkoba. Personel medis satuan dilibatkan dalam pelayanan di Puskesmas Way Tuba. Aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitar markas pun disebut tumbuh.

 

Menanggapi itu, Sjafrie mengingatkan agar orientasi sosial bukan prioritas utama: kesiapan tempur. 

Halaman Selanjutnya
img_title