Tak Hanya TNI-Polri, Warga Biasa Dilatih Jadi Penolong di Tengah Bencana Air
- Foto Dokumentasi Riduan
Lampung – Tingginya angka kecelakaan tenggelam di wilayah perairan membuat Badan SAR Nasional (Basarnas) Lampung bergerak cepat.
Sebanyak 50 potensi Search and Rescue (SAR) dari berbagai elemen dilatih penyelamatan permukaan air selama sepekan, mulai 18 hingga 24 Mei 2025.
Kegiatan yang dibuka secara resmi di Gedung Pramuka, Bandar Lampung, pada Senin (19/5/2025) ini menjadi respons konkret atas dominasi kasus kecelakaan air dalam operasi SAR di Provinsi Lampung.
Kepala Basarnas Lampung, Deden Ridwansyah, mengungkapkan bahwa pelatihan ini dilakukan meski pemerintah pusat tengah melakukan efisiensi anggaran.
Menurutnya, Lampung dipilih karena merupakan daerah dengan tingkat kecelakaan air yang cukup tinggi dibandingkan provinsi lain.
“Data dari Januari hingga Mei tahun ini, kami telah melaksanakan 26 operasi SAR. Dari jumlah tersebut, sekitar 80,1 persen merupakan operasi penyelamatan di air—baik di laut, sungai, maupun danau di Lampung,” ungkap Deden dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, pelatihan ini mencakup 15 materi pertolongan di air, dengan peserta berasal dari berbagai latar belakang seperti TNI, Polri, komunitas relawan, hingga organisasi masyarakat.
Deden berharap para peserta pelatihan nantinya bisa menjadi kekuatan tambahan bagi Basarnas dalam menjalankan misi kemanusiaan di lapangan.
“Potensi SAR ini adalah mitra strategis kami. Mereka akan mempercepat waktu tanggap saat terjadi musibah tenggelam, terutama di wilayah terpencil yang tidak bisa langsung dijangkau Basarnas,” imbuhnya.
Apresiasi atas pelatihan ini juga datang dari Anggota Komisi V DPRD Lampung, Deni Ribowo, yang turut hadir dalam pembukaan kegiatan.
Ia menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif Basarnas dalam memperkuat kapasitas penyelamatan masyarakat.
“Bencana di Lampung cukup tinggi, dan kehadiran potensi SAR ini akan sangat membantu dalam proses pencarian dan pertolongan korban. Saya berharap pelatihan ini berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat,” ujar Deni.
Melalui pelatihan ini, Basarnas Lampung berharap tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis relawan, tetapi juga membangun jejaring yang lebih luas dalam merespons bencana, khususnya di perairan.
Kolaborasi antarsektor ini diharapkan menjadi kekuatan baru dalam menyelamatkan nyawa di setiap jengkal perairan Lampung. (*)