Daging Program MBG 'Alot', Kompetensi Juru Masak SPPG Tugu Sari 2 Lampung Barat Dipertanyakan

Menu Daging MBG seperti karet di Lampung Barat, dikeluhkan penerima manfaat.
Sumber :
  • Istimewa

Lampung Barat, Lampung – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lampung Barat menuai kritik tajam, setelah mnu daging sapi yang disajikan disebut-sebut “seperti karet” dan sulit dikonsumsi.

img_title Jelang Tayang Perdana 1 Oktober, Kru dan Pemeran Film 'Ageman' Bakal Gelar Talk Show Keliling Lampung

Menu daging sapi yang disajikan melalui Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Tugu Sari 2 pada Jumat (17/4/2026) dikeluhkan oleh penerima manfaat karena teksturnya yang sangat alot hingga sulit dikonsumsi. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi, sebuah video berdurasi sekitar 10 detik beredar luas dan memperlihatkan seorang penerima manfaat kesulitan mengunyah daging yang diduga belum matang sempurna.

img_title Siswa SMAN 1 Way Kunang Ditembak Begal Saat Berangkat Sekolah, Usus dan Ginjal Rusak

"Gimana ini MBG Sumber Jaya, ini sembarangan. Bisa sembelit nanti, dagingnya kayak karet!," terdengar dalam video tersebut.

Tak hanya di satu titik, keluhan serupa juga muncul dari sejumlah sekolah lain. Saat dikonfirmasi, pihak sekolah membenarkan bahwa menu hari itu adalah daging sapi dan mengakui teksturnya alot.

img_title SDN 3 Perumnas Way Kandis Borong Tujuh Gelar, Juara Umum Gebyar PAI 2026

"Iya, mas. Menunya sama, daging sapi. Memang alot," ungkap salah satu pihak sekolah penerima manfaat MBG.

Kepala SPPG Tugu Sari 2, Dedi Suhendra, juga tidak membantah bahwa menu yang disajikan pada hari tersebut adalah daging sapi. Namun, tidak ada penjelasan lebih lanjut terkait kualitas pengolahan makanan tersebut.

"Iya, benar. Menu hari ini daging sapi,terkait hal itu nanti kami akan musyawarahkan dan  kami sampaikan nanti," ujarnya singkat saat dikonfirmasi via  whatsapp

Kondisi ini langsung menuai reaksi keras dari aktivis Germasi, Wahdi Syarif. Ia menilai kejadian ini bukan sekadar kelalaian, melainkan indikasi lemahnya standar dan pengawasan dalam pelaksanaan program.

"Kalau daging sampai seperti itu, ini bukan lagi soal teknis, tapi soal kompetensi. Patut diduga juru masaknya tidak memiliki sertifikasi yang layak," tegasnya.

Ia bahkan menduga adanya praktik tidak profesional dalam pengadaan tenaga masak. "Jangan-jangan sertifikatnya hanya formalitas atau bahkan ‘nembak’. Ini harus diusut," tambahnya.

Wahdi juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan akan membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih serius.

"Kami akan berkoordinasi dengan founder Germasi agar bisa diteruskan ke BGN  dan mendorong evaluasi menyeluruh. Program sebesar ini tidak boleh dijalankan secara asal-asalan, apalagi menyangkut konsumsi masyarakat," pungkasnya.(*)