Di Tengah Perlambatan Ekonomi, Lampung Justru Cetak Surplus Dagang US$533 Juta
- Foto dokumentasi riduan
Lampung – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung kembali mencetak surplus pada Juni 2026.
Nilai surplus mencapai US$533,60 juta, menjadi yang tertinggi dalam beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya nilai ekspor dan menurunnya impor.
Pranata Komputer Ahli Madya BPS Provinsi Lampung, Hermawan Prasetyo, mengatakan capaian tersebut menunjukkan kinerja perdagangan luar negeri Lampung masih berada dalam kondisi yang kuat. Surplus terjadi karena nilai ekspor jauh melampaui nilai impor selama Juni 2026.
Nilai ekspor Lampung pada Juni 2026 tercatat sebesar US$646,28 juta atau meningkat 16,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$556,32 juta.
Meski demikian, secara kumulatif selama Januari hingga Juni 2026, ekspor tercatat sebesar US$3,009 miliar atau turun 1,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagian besar ekspor Lampung masih dilakukan melalui pelabuhan di dalam provinsi dengan kontribusi mencapai 82,50 persen atau senilai US$2,48 miliar. Sisanya sebesar 17,50 persen dikirim melalui pelabuhan di luar Lampung.
Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$446,95 juta atau 14,85 persen dari total ekspor. Posisi berikutnya ditempati Tiongkok sebesar US$392,71 juta dan Belanda sebesar US$245,67 juta. Ketiga negara tersebut didominasi impor komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati dari Lampung.
Komoditas ekspor terbesar sepanjang Januari hingga Juni 2026 masih didominasi lemak dan minyak hewan atau nabati dengan nilai US$1,35 miliar atau 44,98 persen dari total ekspor. Disusul bahan bakar mineral sebesar US$462,73 juta serta kopi, teh, dan rempah-rempah senilai US$400,69 juta.
Sementara itu, nilai impor Lampung pada Juni 2026 tercatat sebesar US$112,68 juta atau turun 34,84 persen dibandingkan Juni 2025. Secara kumulatif, impor Januari hingga Juni 2026 mencapai US$828,15 juta atau turun 28,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Jerman menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$157,31 juta, disusul Amerika Serikat sebesar US$154,49 juta dan Australia sebesar US$87,61 juta. Adapun komoditas impor terbesar meliputi kapal, perahu, dan struktur terapung, ampas dan sisa industri makanan, serta binatang hidup.
Selain merilis data perdagangan, BPS juga mencatat Provinsi Lampung mengalami deflasi sebesar 0,49 persen pada Juli 2026. Penurunan harga terutama dipicu turunnya harga komoditas pangan seperti bawang merah, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan tomat. Meski demikian, secara tahunan Lampung masih mencatat inflasi sebesar 1,76 persen.