Waspada Ancaman Terorisme Berbasis Drone, Ken Setiawan Ingatkan Aparat Perketat Pengawasan

Ken Setiawan, pendiri NII Crisis Center.
Sumber :
  • Istimewa

Bandar Lampung, Lampung – Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, mengeluarkan peringatan keras terkait pergeseran taktik jaringan terorisme di Indonesia. Meski organisasi besar seperti Jamaah Islamiyah (JI) telah membubarkan diri, muncul ancaman baru berupa pemanfaatan teknologi drone (pesawat tanpa awak) untuk aksi radikalisme.

img_title Warga Blokade Jalan SMAN 1 Labuhan Ratu, Kecewa Anak Gagal PPDB di Lahan Hibah Sendiri

Meski demikian, Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, mengeluarkan peringatan keras terkait pergeseran taktik jaringan terorisme di Indonesia. 

Ken mengungkapkan adanya laporan mengenai individu dengan latar belakang pendidikan beragam mulai dari Hukum hingga kedokteran yang tiba-tiba beralih profesi menjadi pemain drone profesional. 

img_title Masuki Tahun Ajaran Baru, Polsek Penengahan Bentengi Siswa SMAN 1 Ketapang dari Narkoba dan Judi Online

"Hal ini patut diwaspadai sebagai upaya penguasaan teknologi untuk kepentingan jaringan," ungkap Ken Setiawan. 

Selain teknologi, jaringan ini juga menyusup melalui pemberdayaan ekonomi, seperti membuka pabrik roti premium untuk menyasar kalangan menengah ke atas sebagai target perekrutan. 

img_title Bikin Kaget Dewan Guru, Wapres Gibran Blusukan ke MTs dan MI Muhammadiyah Way Bungur Lampung Timur

"Sejumlah kasus penangkapan oleh Densus 88 terhadap pemilik usaha roti menjadi bukti nyata tren ini," ujar Ken.

Ken Setiawan juga menyoroti perekrutan jaringan terorisme yang menyasar kalangan pelajar SMA /SMK, bahkan Densus 88 merilis ada 110 pelajar terlibat terorisme, diantaranya ada diantaranya  ada yang masih duduk di bangku SMP

Bahkan, lanjut Ken, fenomena baru, yakni keterlibatan individu berlatar pendidikan tinggi seperti lulusan fakultas hukum, kedokteran, dan agama yang beralih profesi menjadi operator drone profesional dengan peralatan bernilai mahal.

Menurut Ken, penggunaan drone oleh jaringan terorisme merupakan ancaman keamanan serius. Teroris kini memanfaatkan drone komersial yang dimodifikasi untuk keperluan pengintaian, propaganda, hingga serangan langsung.

"Drone bisa digunakan untuk menjatuhkan bom kecil atau bahan peledak, melakukan pengintaian target, bahkan mengacaukan sistem pertahanan melalui serangan drone secara massal," ujarnya.

Ken menilai, meski tren aksi teror menurun, kasus intoleransi dan radikalisme justru meningkat akibat minimnya anggaran dan perhatian terhadap pencegahan. Ia menegaskan bahwa jaringan terorisme sudah mulai menguasai teknologi drone, sehingga berpotensi mengancam keamanan nasional.

Untuk itu, Ken mengusulkan pemasangan sistem anti-drone di objek vital strategis, pengetatan regulasi penggunaan drone, serta peningkatan kemampuan intelijen, khususnya intelijen siber, guna mendeteksi aktivitas mencurigakan sejak dini.

Halaman Selanjutnya
img_title