Viral! Guru di Lampung Utara Protes Makanan Bergizi Gratis: Tempe Tak Segar dan Anggur Busuk

Kepala sekolah SD di Lampung Utara protes MBG kualitas buruk.
Sumber :
  • Lampung.viva

Lampung Utara, Lampung – Pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis di Lampung Utara menjadi sorotan tajam setelah sebuah video protes seorang guru viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan kondisi makanan yang dinilai tidak layak konsumsi bagi siswa sekolah dasar.

img_title Inflasi Lampung Melandai, Kenaikan BBM Non-Subsidi Masih Jadi Pemicu Utama

Kejadian yang diduga berlangsung di SD Negeri 3 Sindangsari, Kotabumi, ini mengungkap kualitas menu yang memprihatinkan.

Kepala Sekolah SDN 03 Sindang Sari, Lampung Utara, Ida Yulia Mega, menyampaikan keluhan serius terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat. 

img_title Mulai Panaskan Mesin, PWI Lampung Utara Bidik Cabor Unggulan Hadapi Porwanas 2027

Ida Yulia Mega memperlihatkan menu makanan bergizi gratis yang diterima siswa, di mana lauk tempe disebut sudah tidak segar. Sementara itu, buah anggur yang disajikan diduga dalam kondisi basi dan busuk.

"Anak-anak seharusnya mendapatkan makanan bergizi yang layak, bukan makanan yang sudah basi atau bahkan tidak dikirim sama sekali," ungkap Ida.

img_title Lelang Aset Rongsok dan Kendaraan Dinas, Pemkab Lampung Utara Raup PAD Rp348 Juta

Dengan nada emosi, Ida Yulia tersebut menegaskan makanan itu tidak layak diberikan kepada anak-anak sekolah dasar. Ia juga mempertanyakan tanggung jawab pengelola apabila makanan tersebut menimbulkan keracunan.

Ida Yulia menyatakan bahwa keluhan terhadap kualitas program ini sudah terjadi berulang kali. Meskipun pihaknya telah melapor ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), namun respons yang diterima selama ini dianggap belum memadai.

Menanggapi polemik ini, Kepala SPPG Dapur Hajjah Lis, Abib Saputra, mengakui adanya kelalaian tersebut. Ia menyampaikan permohonan maaf resmi dan berjanji akan melakukan evaluasi total terhadap para pekerjanya.

"Sebagai bentuk tanggung jawab awal, pihak dapur memberikan susu serta obat-obatan ringan kepada siswa," ucap Abib Saputra.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi pelaksanaan program unggulan pemerintah pusat di daerah. Masyarakat mendesak adanya pengawasan ketat terhadap vendor atau dapur penyedia agar tujuan meningkatkan gizi anak Indonesia tidak justru membahayakan kesehatan para siswa. (*)