Anak Tukang Tambal Ban Jadi Wisudawan Terbaik ITERA
- Foto Dokumentasi Riduan
Lampung – Institut Teknologi Sumatera (ITERA) resmi mewisuda 2.095 lulusan pada Wisuda ke-23, Kamis–Jumat (14–15 November 2025).
Namun di antara ribuan toga yang dikalungkan, kisah seorang anak tukang tambal ban mencuri perhatian.
Ia adalah Josevein Hutagalung, lulusan S1 Teknik Elektro yang berhasil berdiri di podium sebagai wisudawan terbaik pertama.
Lahir dari Kesederhanaan, Tumbuh dengan Tekad Besar
Josevein berasal dari keluarga sederhana di Seputih Banyak, Lampung Tengah. Ayahnya, Jhonson Efendi Hutagalung, bekerja sebagai tukang tambal ban, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga.
Mereka tinggal di rumah kontrakan dan menjalani hidup dari penghasilan usaha kecil yang tidak menentu.
Namun dari bengkel tambal ban itulah mimpi besar Josevein dirawat. Ia tumbuh dengan satu pesan kuat dari ayahnya:
“Orang tua tidak bisa warisin harta, tapi mewarisi ilmu.”
Kalimat itu menjadi kompas yang membimbing Josevein hingga ia mampu mengukir prestasi tertinggi di kampus teknik terbesar di Sumatera bagian selatan tersebut.
Tekun Merupakan Jalan, IPK 3,88 Bukan Satu-Satunya Ukuran
Memiliki IPK 3,88, Josevein mengaku bahwa predikat wisudawan terbaik tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik. Ia belajar dari senior bahwa prestasi di luar kampus adalah kunci.
“Banyak yang IPK-nya lebih tinggi. Tapi jadi wisudawan terbaik bukan hanya soal IPK. Harus punya prestasi dan kontribusi di luar kampus,” ujarnya.
Prestasi Internasional dari Anak Tukang Tambal Ban
Di balik kondisi ekonomi yang terbatas, Josevein berhasil melangkah hingga ajang internasional: Silver Medal ITLAS 2025 di Universiti Kebangsaan Malaysia.
Partisipasi IDEX 2025 di Universiti Teknikal Malaysia Melaka dengan prototype sistem solar. Akses aktif dalam berbagai penelitian di Teknik Elektro.
Ayahnya mengaku hanya bisa memberikan doa dan motivasi ketika Josevein dikirim ke Malaysia selama enam bulan untuk pertukaran mahasiswa.
“Kami hanya bilang: jalani saja. Percaya saja. Tuhan pasti buka jalan,” kenang ayahnya.
Tantangan Terberat: Melawan Malas dan Keterbatasan
Josevein jujur mengatakan musuh terbesarnya adalah rasa malas dan bayang-bayang kondisi ekonomi keluarga. Namun setiap kali rasa itu datang, ia kembali memikirkan mimpi utamanya: membuat orang tuanya bangga.