Merawat Ingatan Leluhur di Meja Halalbihalal

Sesi foto bersama
Sumber :
  • Foto dokumentasi istimewa

Lampung Halalbihalal keluarga besar Yayasan Djaro Boeang tak sekadar menjadi penanda usainya Idulfitri 1447 Hijriah. 

img_title Rakernas XVIII APEKSI, Wali Kota Eva Dwiana Unjuk Gigi Kenalkan Budaya Bandar Lampung di Medan

 

Di dalamnya, tersimpan upaya merawat ingatan kolektif tentang asal-usul sekaligus menjaga jalinan silaturahmi sepanjang generasi.

img_title Meriahkan HUT ke-344 Kota Bandar Lampung, Wali Kota Eva Dwiana Lepas Ribuan Peserta Color Run

 

Rangkaian kegiatan yang digelar pada hari Minggu itu mempertemukan anggota keluarga dari berbagai daerah.

img_title Ribuan Jemaah Padati Sholat Iduladha di Masjid Raya Al-Bakrie

Mereka datang bukan hanya untuk saling bermaafan, melainkan juga memperkuat ikatan yang diwariskan para pendahulunya.

 

Ketua Yayasan Djaro Boeang, Bahagia Saputra, menyebut halalbihalal sebagai ruang refleksi.

“Ini bukan sekedar agenda tahunan. Ada nilai yang dijaga, terutama dalam merawat tradisi leluhur ,” ujarnya.

 

Menurut Bahagia, tingginya partisipasi keluarga menunjukkan bahwa ikatan kekeluargaan masih terpelihara. 

 

Ia menilai, pertemuan semacam ini menjadi penting di tengah jarak geografis dan kesibukan masing-masing anggota keluarga.

 

Sebelum acara puncak, keluarga besar Djaro Boeang menjalankan tradisi ziarah ke makam leluhur, yakni Djaro Boeang 1 dan Djaro Boeang 2. 

 

Ziarah itu menjadi penanda bahwa hubungan keluarga tidak terputus oleh waktu.

 

“Makam leluhur bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan penanda asal-usul yang harus dijaga,” kata Bahagia. 

 

Ia juga mengingatkan pentingnya penataan kawasan pemakaman agar tetap nyaman bagi peziarah.

 

Di sisi lain, Ketua Panitia Puji Astuti memandang momentum Syawal sebagai waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan. 

 

Halalbihalal, kata dia, menjadi sarana untuk melapangkan hati setelah setahun menjalani dinamika kehidupan.

 

“Esensi Idulfitri tidak berhenti pada hari raya. Yang utama adalah memulihkan hubungan dan mempererat kembali kebersamaan keluarga,” ujarnya.

 

Pembina Yayasan Djaro Boeang, Muchsin Ridjan, menambahkan kegiatan ini telah berlangsung secara turun-temurun dan kini memasuki generasi kelima. 

 

Keberlanjutannya, menurut dia, menunjukkan adanya kesadaran kolektif untuk menjaga tradisi.

 

Tak berhenti pada kegiatan seremonial, yayasan juga mengembangkan program pendidikan Alquran. 

 

Kegiatan tersebut berlangsung di Baitul Muchsinin, Palapa, Bandar Lampung, dan terbuka bagi masyarakat secara gratis.

 

Bagi keluarga besar Djaro Boeang, halalbihalal bukan hanya ruang temu tahunan. 

 

Ia menjelma menjadi media untuk merawat nilai, memperkuat identitas, serta menyiapkan generasi penerus yang tak tercerabut dari akarnya. (*)