Hutan Jawa Tengah Tersisa 662 Ribu Hektare, Kriminolog Alumni UI Peringatkan Dampak El Niño 'Godzilla'
- Istimewa
Bandar Lampung, Lampung – Istilah "El Niño Godzilla" belakangan kembali ramai diperbincangkan sebagai sebutan populer bagi fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat yang mampu memicu kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, krisis air bersih, hingga gagal panen.
Meskipun bukan istilah ilmiah resmi, julukan tersebut menggambarkan besarnya ancaman yang dapat ditimbulkan ketika pemanasan Samudra Pasifik mencapai tingkat yang luar biasa.
Di tengah ancaman perubahan iklim tersebut, Jawa Tengah menghadapi tantangan lain yang tidak kalah serius, yakni berkurangnya tutupan hutan akibat deforestasi.
Data Global Forest Watch menunjukkan bahwa selama periode 2001–2025 Jawa Tengah kehilangan sekitar 65 ribu hektare tutupan pohon atau sekitar 4 persen dari luas tutupan pohon tahun 2000.
Sementara itu, data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan luas kawasan hutan yang tersisa sekitar 662 ribu hektare, sehingga setiap kehilangan tutupan hutan memiliki konsekuensi ekologis yang semakin besar.
Kriminolog alumni Universitas Indonesia (UI) Hardiat Dani berpendapat bahwa berdasarkan perspektif green criminology, persoalan tersebut tidak dapat dipandang semata sebagai isu kehutanan.
Green criminology mempelajari berbagai tindakan yang menimbulkan kerugian terhadap lingkungan atau environmental harm, baik yang dilakukan secara ilegal maupun melalui aktivitas yang sah secara administratif tetapi menimbulkan dampak ekologis yang luas.
Dalam perspektif ini, deforestasi akibat pembalakan liar, konversi kawasan hutan, maupun eksploitasi sumber daya yang mengabaikan daya dukung lingkungan merupakan bentuk kerugian sosial karena korban sesungguhnya adalah masyarakat.
Masyarakat harus menghadapi meningkatnya risiko banjir, longsor, kekeringan, penurunan kualitas udara, hingga hilangnya sumber mata pencaharian.
"Deforestasi dan El Niño bukanlah dua persoalan yang berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat sehingga meningkatkan risiko bencana ekologis," kata Hardiat Dani di Semarang, Senin (6/7/2026).
Hutan yang rusak kehilangan kemampuan menjaga kelembapan tanah dan menyimpan cadangan air. Akibatnya, saat El Niño kuat atau "Godzilla" melanda, wilayah yang terdeforestasi akan jauh lebih cepat mengering, memicu krisis air bersih, gagal panen, hingga kebakaran lahan.
Hardiat menambahkan, Jawa Tengah perlu memberikan perhatian khusus terhadap persoalan ini. Berdasarkan pemantauan Global Forest Watch, kehilangan tutupan pohon terbesar terjadi di beberapa kabupaten seperti Cilacap, Blora, Grobogan hingga kawasan Pantura, yang masing-masing kehilangan ribuan hektare tutupan pohon sejak 2001.