Soroti Juknis Makan Bergizi Gratis, IDAI Desak Badan Gizi Nasional Stop Bagi Susu Formula Massal

Sosialisasi BGN di Bandar Lampung
Sumber :
  • Foto Dokumentasi Riduan

Bandar Lampung, Lampung – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengapresiasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah. Namun, IDAI menemukan anomali kritis dalam Petunjuk Teknis (Juknis) Badan Gizi Nasional (BGN) yang memfasilitasi distribusi susu formula lanjutan (6–12 bulan) dan pertumbuhan (12–36 bulan) secara massal tanpa indikasi medis yang ketat.

img_title Jaga Kepercayaan Publik, 153 Kasus Kejahatan Finansial OJK Resmi Inkrah di Pengadilan

Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa kebijakan distribusi massal tersebut bertabrakan langsung dengan UU Nomor 17 Tahun 2023 dan PP Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan.

"Susu formula merupakan pangan olahan diet khusus yang esensinya adalah tatalaksana medis individual. Mendistribusikannya secara masif tanpa peresepan dokter melanggar prinsip kehati-hatian medis (Primum Non Nocere) dan berisiko menurunkan angka kesuksesan ASI eksklusif," ujar dr. Piprim, Kamis (21/5/2026).

img_title Antar Napi Cuci Darah, Ambulans Lapas Kotabumi Terjungkal di Lampung Tengah

Ketua Satgas ASI IDAI, dr. Naomi Esthernita F. Dewanto, menambahkan bahwa komponen bioaktif dan zat kekebalan dalam ASI tidak bisa digantikan oleh produk industri. 

"ASI bukan sekadar makanan. Didalamnya ada ratusan komponen bioaktif yang bekerja melindungi bayi dan anak," kata dr. Naomi dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).

img_title Aksi Ribuan Emak-Emak di Lampung: Minta Program Makan Bergizi Gratis Tak Dihentikan

Negara harus hadir melindungi hak biologis ini agar bayi tidak mengalami ketergantungan pada makanan ultra-proses (Ultra-Processed Food) yang justru meningkatkan risiko infeksi.

Daripada mengalokasikan anggaran untuk susu formula komersial, IDAI menyarankan pemerintah mengalihkan dana tersebut demi memperkuat kedaulatan pangan lokal.

"Anak-anank kita butuh ASI, jangan sampai kebijakan yang tidak tepat membuat mereka (anak-anak) kehilangan sesuatu yang penting," bebernya.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, dr. Yoga Devaera, mengingatkan bahwa makanan terbaik untuk mencegah stunting pada anak di atas usia 6 bulan (fase MPASI) adalah protein hewani segar yang bersumber dari lingkungan sekitar.

"Pangan lokal jauh lebih ampuh mencegah stunting. Makanan terbaik itu adalah zat protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging, bukan susu formula," jelas dr. Yoga.

IDAI berharap BGN dapat segera melakukan telaah ulang dan sinkronisasi petunjuk teknis sebelum kebijakan ini menimbulkan kerugian kesehatan yang luas. 

"Kami berharap melalui sinergi yang harmonis, pemerintah melalui BGN dapat menjamin bahwa setiap kebijakan yang diambil senantiasa mengutamakan kedaulatan gizi dan perlindungan hakiki bagi tumbuh kembang generasi masa depan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045," tutup Dr Piprim. (*)