Menyusuri Jejak Sejarah Masjid Al-Anwar: Saksi Bisu Letusan Krakatau dan Al-Qur'an Kuno di Tanah Lampung
- Foto Dokumentasi Riduan
Lampung – Di pesisir Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung, berdiri sebuah bangunan yang memanggul sejarah lebih dari satu setengah abad.
Masjid Jami’ Al-Anwar bukan hanya masjid tertua di Provinsi Lampung, melainkan juga penanda awal berkembangnya syiar Islam di wilayah pesisir Lampung yang kala itu menjadi jalur penting perdagangan antarpulau.
Masjid Plang
- Foto Dokumentasi Riduan
Didirikan pada 1839 oleh komunitas perantau Bugis, masjid ini bermula dari surau sederhana berbahan kayu.
Para saudagar dan ulama Bugis yang menetap di Teluk Betung membangun tempat ibadah itu sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus ruang musyawarah.
Dari sinilah pengajian, diskusi keislaman, hingga penyebaran ajaran Islam tumbuh dan menyebar ke berbagai penjuru Lampung.
Pada pertengahan abad ke-19, Teluk Betung berkembang sebagai kawasan pelabuhan yang ramai.
Masjid Jami’ Al-Anwar menjadi titik temu para pedagang, ulama, dan tokoh masyarakat. Selain sebagai tempat salat, masjid ini juga difungsikan sebagai ruang konsolidasi sosial—tempat membicarakan persoalan umat, pendidikan agama, hingga strategi menghadapi tekanan kolonial.
Suasana di dalam majid
- Foto Dokumentasi Riduan
Sejarah besar kemudian datang mengguncang. Pada 1883, letusan dahsyat Gunung Krakatau memporak-porandakan kawasan pesisir Lampung.
Gelombang tsunami dan hujan abu menghantam Teluk Betung. Bangunan masjid terdampak hebat.
Namun, semangat masyarakat tak ikut runtuh. Lima tahun setelah bencana, tepatnya pada 1888, masjid dibangun kembali.
Struktur utama yang berdiri hingga kini merupakan hasil pembangunan ulang tersebut. Enam tiang kayu utama yang menyangga bangunan disebut masih asli sejak akhir abad ke-19.
Al Qur
- Foto Dokumentasi Riduan
Tiang-tiang itu tidak hanya menopang atap, tetapi juga menjadi simbol keteguhan iman masyarakat yang bangkit dari bencana.
Muhammad Saidin, pengurus masjid, menuturkan bahwa proses pembangunan ulang dilakukan secara gotong royong.
“Masjid ini dibangun kembali setelah letusan Krakatau. Enam tiang utamanya masih asli sejak 1888 dan tetap dipertahankan sampai sekarang,” ujarnya.
Seiring waktu, masjid mengalami sejumlah renovasi untuk menyesuaikan kebutuhan jamaah yang terus bertambah.
Namun, elemen-elemen penting warisan abad ke-19 tetap dijaga, termasuk struktur kayu penyangga dan tata ruang utama.
Tak hanya bangunannya yang menyimpan cerita. Di dalam masjid tersimpan Al-Qur’an kuno yang diperkirakan berusia lebih dari satu setengah abad. Kitab suci tersebut dibawa oleh ulama Bugis pada masa awal pendirian masjid.