Gandeng PGNI dan NII Crisis Center, Ponpes Sirojud Tholibin Bahas Bahaya Terorisme Media Sosial

Sambut HUT RI ke-81, guru ngaji dan santri di Bandar Lampung dibekali edukasi bahaya ekstremisme.
Sumber :
  • Istimewa

Bandar Lampung, Lampung – Pondok Pesantren (Ponpes) Sirojud Tholibin Bandar Lampung menggelar Diskusi Kebangsaan dalam rangka Refleksi Menyambut Kemerdekaan RI ke-81 pada Rabu (5/8/2026). 

img_title Saat Ponsel Jadi Medan Bela Negara, Pangdam Ingatkan Mahasiswa Unila soal Perang Informasi

Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Lampung dan NII Crisis Center sebagai bentuk kewaspadaan terhadap ancaman radikalisme serta terorisme.

Pengasuh Ponpes Sirojud Tholibin, KH. Lukman Hakim, menjelaskan bahwa acara tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri dari tokoh agama, guru ngaji, jamaah majelis taklim, hingga para santri. 

img_title Pelaku Curanmor di Ponpes Candipuro Diringkus Polisi, Kunci T dan Belasan Spion Disita

Forum ini digelar sebagai respons atas fenomena penangkapan terduga teroris di sejumlah daerah, termasuk di Provinsi Lampung.

"Kami mengundang Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, yang juga Kabid Pemuda dan Pendidikan FKPT Lampung. Beliau diharapkan membagikan pengalaman nyata saat terpapar doktrin radikal hingga akhirnya tersadar dan berubah menjadi moderat," ujar KH. Lukman Hakim.

img_title KSKP Bakauheni Sambangi SD Bhakti Ibu, Ajak Murid dan Guru Jadi Duta Digital Siger Lampung Presisi

Dalam diskusi tersebut, Pengurus Wilayah PGNI Lampung yang diwakili Ketua Umum Ust. Mas Amirudin bersama Bidang IT dan Komunikasi Basuki Rahmad, memaparkan program penanggulangan radikalisme. 

PGNI berkomitmen menggelar road show kebangsaan guna membentengi masyarakat dari bahaya ekstremisme.

Selain itu, PGNI juga mengenalkan portal digital resmi (pgni.net) yang dirancang untuk mengintegrasikan data, meningkatkan transparansi administrasi, serta memperkuat sinergi antar-guru ngaji di Lampung.

"Dengan memanfaatkan teknologi digital, portal ini mempermudah akses informasi sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola organisasi guru ngaji secara terintegrasi," terang Amirudin.

Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, menegaskan bahwa ancaman radikalisme dan terorisme saat ini telah bergeser ke dalam genggaman gadget. Rekrutmen, propaganda, hingga penghasutan kini masif dilakukan melalui platform media sosial seperti WhatsApp, Telegram, Discord, hingga forum anonim.

Ken juga menyoroti maraknya ancaman baru yang tidak berlatar belakang agama, melainkan terpengaruh oleh True Crime Community (TCC) komunitas daring transnasional yang mengagumi kejahatan ekstrem, white supremacy, dan ideologi barat radikal.

"Banyak anak di bawah umur usia 11 hingga 18 tahun yang diamankan aparat karena terafiliasi TCC. Mayoritas dari mereka adalah korban perundungan (bullying) atau masalah keluarga (broken home) yang mencari pelarian di ruang digital, lalu terprovokasi melakukan aksi kekerasan," jelas Ken.

Halaman Selanjutnya
img_title