Warga Blokade Jalan SMAN 1 Labuhan Ratu, Kecewa Anak Gagal PPDB di Lahan Hibah Sendiri
- Lampung.viva
Lampung Timur, Lampung – Sejumlah warga di Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, mengambil tindakan tegas dengan menutup total akses jalan menuju SMA Negeri 1 Labuhan Ratu.
Aksi ini dipicu oleh rasa kekecewaan mendalam warga setelah anak-anak mereka dinyatakan gagal masuk ke sekolah tersebut melalui jalur Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Warga menilai pihak manajemen sekolah telah mengabaikan janji historis. Pasalnya, gedung SMAN 1 Labuhan Ratu berdiri di atas lahan tanah hibah yang dahulu diberikan secara sukarela oleh warga sekitar dengan komitmen agar anak-cucu mereka diprioritaskan mendapat pendidikan di sana.
Harapan warga agar anak-anak mereka bisa menempuh pendidikan dekat dengan rumah pupus pada tahun ajaran baru ini.
Berdasarkan keterangan warga setempat, terdapat tiga anak dari lingkungan ring satu yang mendaftar ke SMAN 1 Labuhan Ratu, namun seluruhnya dinyatakan tidak diterima.
Kondisi tersebut memicu gejolak sosial mengingat faktor-faktor berikut posisi rumah ketiga calon murid yang ditolak tersebut hanya berjarak antara 20 hingga 50 meter dari gerbang sekolah.
Kekecewaan warga kian merembet setelah adanya kebijakan dari pihak sekolah yang melarang warga sekitar untuk menggelar aktivitas dalam bentuk apa pun di dalam masjid lingkungan sekolah.
Selain memblokade jalan utama, warga yang telanjur kecewa juga menutup total saluran drainase pembuangan air dari sekolah yang mengalir melintasi lahan milik perkebunan warga.
Salah seorang warga setempat, Teguh, menegaskan bahwa aksi pemblokiran ini memiliki dasar legalitas kepemilikan lahan yang kuat.
Menurutnya, jalan yang ditutup oleh warga tersebut bukanlah fasilitas umum milik pemerintah.
"Kami berani menutup akses jalan menuju sekolah ini karena status tanah tersebut murni hak milik pribadi warga yang sengaja dibuka untuk akses jalan, bukan tanah milik pemerintah atau jalan umum. Kami hibahkan tanah untuk sekolah agar anak-anak dekat kalau sekolah, tapi kenyataannya regulasi sekarang justru menyingkirkan anak warga sini," tegas Teguh.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar lokasi dilaporkan masih buntu (deadlock). Belum ada kesepakatan maupun titik temu dari hasil mediasi antara pihak kepala sekolah SMAN 1 Labuhan Ratu dengan perwakilan warga sekitar.