Atasi 'Triple Mismatch', UBL Dorong Lampung Jadi Pelopor Talent Matching Ecosystem di Indonesia

Rektor UBL, Yusuf S. Barusman paparkan strategi tekan pengangguran terdidik di Lampung.
Sumber :
  • Istimewa

Bandar Lampung, Lampung – Universitas Bandar Lampung (UBL) menggagas terobosan baru dengan mendorong Provinsi Lampung sebagai pelopor pengembangan Talent Matching Ecosystem pertama di Indonesia. 

img_title Rakernis Reskrim Polda Lampung 2026: Dr. Benny Karya Limantara Tekankan Paradigma Baru Penyidikan Modern

Langkah ini dinilai sebagai solusi konkret untuk merombak paradigma pendidikan nasional dari sekadar mencetak lulusan menjadi sistem pencocokan bakat yang akurat.

Gagasan tersebut disampaikan Rektor Universitas Bandar Lampung, Prof. Dr. Ir. M. Yusuf S. Barusman, MBA, dalam paparan bertajuk “Membangun Pendidikan Holistik Melalui Talent Matching Ecosystem: Menyiapkan Generasi Indonesia Emas 2045” pada Lampung Post Executive Forum II 2026, Kamis, 18 Juni 2026, di Gedung Mahligai Agung Pascasarjana UBL.

img_title Sita 80 Senpira di Mesuji, Akademisi Hukum: Keberhasilan Sejati Adalah Melucuti Rasa Takut Warga

Forum yang mengangkat tema “Meningkatkan APK Pendidikan Tinggi Lampung Menuju Indonesia Emas 2045” itu turut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A.

Dalam paparannya, Prof. Yusuf menegaskan bahwa tantangan pendidikan Indonesia tidak lagi cukup dijawab dengan memperbanyak jumlah lulusan. Pendidikan, menurutnya, harus mampu memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi, karakter, dan kecocokan talenta dengan kebutuhan industri serta arah pembangunan nasional.

img_title Warga Blokade Jalan SMAN 1 Labuhan Ratu, Kecewa Anak Gagal PPDB di Lahan Hibah Sendiri

Menurutnya, persoalan pendidikan hari ini tidak hanya terletak pada angka kelulusan atau perluasan akses, tetapi juga pada ketidaksesuaian antara pendidikan, pilihan karier, dan potensi individu. 

"Banyak anak berhasil lulus, tetapi belum berhasil menemukan dirinya. Inilah akar persoalan yang harus kita jawab bersama," ujar Prof. Yusuf.

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini menghadapi triple mismatch, yakni education mismatch, career mismatch, dan talent mismatch. 

Kurikulum belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan industri, pilihan jurusan tidak selalu berujung pada karier yang relevan, sementara bakat dan kekuatan unik peserta didik belum teridentifikasi secara sistematis.

Kondisi tersebut berdampak pada tingginya tantangan pengangguran terdidik dan rendahnya produktivitas sumber daya manusia. 

Dalam materi yang dipaparkan, disebutkan bahwa meskipun Indonesia memiliki jutaan angkatan kerja produktif, dunia usaha dan industri masih menghadapi kesulitan menemukan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan.

"Persoalan utama bukan sekadar kekurangan sumber daya manusia, tetapi kekurangan talenta yang tepat untuk menjawab kebutuhan zaman," tegasnya.

Bagi Lampung, tantangan tersebut dinilai semakin strategis. Sebagai pintu gerbang Sumatera dengan populasi lebih dari sembilan juta jiwa, Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan talenta. 

Halaman Selanjutnya
img_title