'Kudu Wani, Kudu Kendel', Komunitas Gowes Malam di Bandar Lampung Ini Gemar Cari Jalur Misterius

Komunitas sepeda "Uka-Uka"
Sumber :
  • Foto Dokumentasi Riduan

Lampung – Malam baru saja turun ketika puluhan pesepeda mulai berkumpul di sebuah titik di Bandar Lampung.

img_title Bupati Hamartoni Ahadis Dukung Penuh HPN dan Sokong Kontingen SIWO Lampung Utara Berlaga di Porwanas 2027

Sebagian menyeruput kopi, lainnya sibuk memeriksa lampu dan tekanan ban sepeda mereka. Tidak ada yang benar-benar tahu ke mana perjalanan malam itu akan berakhir.

 

img_title Mulai Panaskan Mesin, PWI Lampung Utara Bidik Cabor Unggulan Hadapi Porwanas 2027

Mereka adalah anggota komunitas gowes malam “Uka-Uka”, kelompok pesepeda yang belakangan dikenal karena rute-rute tak lazim: menembus jalur ekstrem, kawasan perkebunan gelap, hingga lokasi yang dianggap angker oleh warga sekitar.

 

img_title Dua Dekade Bertahan, Vega Lampung Club Jaga Tradisi Persaudaraan

Bagi komunitas ini, bersepeda malam bukan sekadar olahraga atau hobi akhir pekan. Gowes malam menjadi ruang pelarian dari rutinitas pekerjaan sekaligus sarana mencari pengalaman baru yang memacu adrenalin.

 

“Rata-rata anggota bekerja, jadi waktu yang paling memungkinkan memang malam hari. Biasanya kami rutin gowes malam Jumat,” kata Ketua Komunitas Uka-Uka, Trio Wanardi, Ahad, 17 Mei 2026.

 

Nama “Uka-Uka” dipilih secara spontan ketika komunitas tersebut mulai terbentuk. Namun, seiring waktu, nama itu justru identik dengan konsep perjalanan misterius ala program televisi lawas bertema penelusuran tempat-tempat angker.

 

“Awalnya hanya supaya mudah diingat. Tapi ternyata teman-teman malah mengaitkannya dengan acara TV zaman dulu yang identik dengan lokasi seram,” ujar Trio sambil tertawa.

 

Berbeda dengan komunitas sepeda pada umumnya yang membagikan jalur perjalanan sejak awal, Uka-Uka justru merahasiakan rute hingga waktu keberangkatan. Peserta hanya diberi gambaran umum mengenai tema perjalanan malam itu.

 

Jika jalur yang akan dilalui tergolong berat, panitia biasanya memberi kode “rute mengancam”.

Konsep tersebut sengaja dibuat untuk menghadirkan sensasi kejutan bagi peserta.

 

“Tujuannya supaya peserta datang bukan hanya untuk olahraga, tetapi juga mencari pengalaman baru,” kata Trio.

 

Komunitas ini juga memiliki slogan “Kudu Wani, Kudu Kendel” yang dalam bahasa Jawa berarti harus berani dan nekat.

 

Salah satu jalur paling menantang yang pernah mereka lalui ialah tanjakan menuju Bukit Aslan. Jalur tersebut didominasi tanjakan panjang tanpa jeda sejauh sekitar tiga kilometer.

 

“Saya survei naik motor saja sempat ragu karena dari bawah sampai atas tanjakan terus,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title