Dilema Petani Lampung: Menanti Kepastian Ekspor Gabah demi Mengais Selisih Rp300

Harga gabah kering di Kabupaten Pesawaran, Lampung anjlok.
Sumber :
  • Lampung.viva

Bandar Lampung, Lampung – Bagi para petani di Lampung, selisih harga beberapa ratus rupiah per kilogram gabah bukanlah angka yang sepele. Di tengah musim kemarau yang penuh tantangan, tambahan pendapatan sekecil apa pun menjadi napas menyambung hidup keluarga.

img_title Panen Anggur BUMDes Merak Batin, Mendes PDT dan Bupati Lamsel Dorong Kolaborasi Ekonomi Desa

Hal tersebut disampaikan Gede, petani asal Desa Balinuraga, Lampung Selatan, usai mengikuti Rapat Pengendalian Distribusi Gabah dan Stabilitas Harga Komoditas Pangan Utama di Ruang Sungkai Balai Keratun, Selasa 1 September 2026.

Gede mengatakan, rapat tersebut belum menghasilkan keputusan final terkait distribusi gabah ke luar daerah. Karena itu, petani masih menunggu keputusan mengenai mekanisme penjualan gabah setelah rapat tersebut.

img_title Rapat Pengendalian Gabah Pemprov Lampung Digelar Tertutup, Wartawan Sempat Diminta Keluar Ruangan

"Belum pasti, terkait masalah (gabah) bisa menyeberang (dijual ke luar daerah/Jawa) atau tidak," kata Gede.

Saat ini, harga gabah di tingkat petani Lampung berada di kisaran Rp7.800 per kilogram, sementara di Pulau Jawa mampu menembus Rp8.200 per kilogram. Selisih Rp300 hingga Rp400 per kilogram itulah yang kini menjadi tumpuan harapan para petani.

img_title Diputar Balik Satgas Pangan, Puluhan Sopir Truk Gabah Protes di Bakauheni Hingga Nekat Menyeberang ke Jawa

"Bagi kami petani, selisih Rp300 itu sangat kami harapkan. Selisih kecil itu bisa mencukupi kebutuhan hidup kami lebih dari dua bulan, apalagi di musim kemarau yang kebutuhan hidupnya sangat banyak," ujar Gede dengan nada penuh harap.

Karena itu, petani berharap tidak ada larangan terhadap penjualan gabah ke luar daerah. Sebab, menurut Gede, pasar luar daerah memberikan peluang nilai tambah yang lebih baik bagi hasil panen mereka.

"Kalau tidak dilarang, kami akan sangat berterima kasih. Di situlah letak nilai tambah bagi kami sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan hidup, yang di musim kemarau ini sangat banyak," jelasnya.

Namun, ketika ditanya apakah sementara ini kendaraan pengangkut gabah masih diperbolehkan menyeberang ke luar daerah sambil menunggu keputusan akhir, Gede mengaku belum mengetahuinya.

Menurut dia, keputusan terkait boleh atau tidaknya pengiriman gabah berada pada pihak pengirim atau pembeli.

"Belum tahu. Perkara boleh atau tidaknya, nanti keputusannya ada di pihak pengirim. Kalau saya sebagai petani tidak tahu," katanya.

Jika nantinya distribusi gabah ke luar daerah benar-benar dibatasi, petani berharap pemerintah memastikan harga pembelian di tingkat petani tidak ikut tertekan.

Halaman Selanjutnya
img_title