Krakatau Tak Sekadar Gunung, Ia Menjadi Cerita dalam 'Tanoh Krakatau'
- Foto dokumentasi istimewa
Lampung – Bagaimana jika tanah tidak hanya menjadi tempat manusia berpijak, tetapi juga menyimpan ingatan tentang siapa manusia itu?
Pertanyaan tersebut coba dijawab Sanggar Gar DanceStory melalui “Tanoh Krakatau”, sebuah karya sendratari yang membawa penonton menyusuri hubungan manusia dengan tanah, alam, sejarah, dan ingatan kolektif masyarakat Lampung.
Karya itu dipentaskan di Bukit Aslan, Lampung, dengan memadukan tari, musik, teater, serta tata artistik panggung. Tubuh para penari menjadi medium untuk menyampaikan cerita, sementara musik dan dramatik membangun suasana yang membawa penonton masuk ke dalam persoalan yang lebih besar: tentang rasa memiliki dan tanggung jawab manusia terhadap tanah tempat mereka hidup.
“Tanoh Krakatau” tidak menjadikan tari sekadar tontonan. Gerak para penari menjadi bahasa yang berbicara tentang kehidupan, alam, kehancuran, dan harapan.
Di dalamnya, Krakatau tidak hanya ditempatkan sebagai fenomena alam yang pernah mengguncang kawasan Selat Sunda. Gunung api itu menjadi simbol tentang hubungan manusia dengan alam—tentang kekuatan yang tidak selalu dapat dikendalikan manusia dan tentang kehidupan yang harus terus dibangun setelah kehancuran.
Krakatau dan Pertanyaan tentang Tanah
Karya ini berangkat dari kegelisahan sekaligus kecintaan terhadap bumi Lampung.
Melalui perjalanan dramatik para tokohnya, penonton diajak berhadapan dengan sejumlah pertanyaan: apa yang terjadi ketika manusia kehilangan rasa memiliki terhadap tanahnya sendiri? Apa yang tersisa ketika hubungan manusia dengan alam semakin jauh?
Dan yang tidak kalah penting, apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat “Tanoh Krakatau” tidak berhenti pada kisah masa lalu. Karya tersebut mencoba menarik sejarah dan alam ke dalam persoalan hari ini.
Tanah menjadi titik temu antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Di situlah kekuatan karya ini. Ia tidak berusaha menggurui penonton mengenai pentingnya menjaga lingkungan atau melestarikan budaya. Pesan tersebut justru dibangun melalui bahasa seni—gerak, bunyi, ekspresi, dan suasana panggung.
Saat Bukit Aslan Membuka Panggung untuk Seniman
Pementasan “Tanoh Krakatau” juga memperlihatkan bagaimana ruang wisata dapat mengambil peran lebih jauh daripada sekadar menjadi tempat rekreasi.