Puncak El Nino Agustus-September 2026, BPBD Lampung Usulkan Hujan Buatan ke BNPB

Ilustrasi El Nino
Sumber :
  • iStockphoto

Bandar Lampung, Lampung – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menghadapi puncak fenomena El Nino yang diperkirakan menguat hingga September 2026. 

img_title Aktivitas Anak Krakatau Menurun, Lampung Hentikan Pembelajaran Jarak Jauh

Langkah tersebut meliputi pengajuan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan hingga pendistribusian bantuan air bersih ke kawasan yang dilanda kekeringan.

Fenomena El Nino memicu penurunan intensitas curah hujan secara signifikan hingga berkisar 0–20 milimeter per bulan. Kondisi ini mengancam sektor pertanian, memicu krisis air bersih, serta meningkatkan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

img_title Dampak Kemarau hingga Abu Krakatau, Ratusan Warga dan Gubernur Mirza Gelar Salat Istisqa di Lapangan Korpri

Kepala BPBD Provinsi Lampung, Rudy Sjawal Sugiarto, mengonfirmasi bahwa proposal pengajuan OMC yang ditandatangani Gubernur Lampung telah resmi disampaikan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan rekomendasi BMKG.

"Proposal sudah kami sampaikan ke BNPB dan saat ini sedang diproses. Kita masih memiliki peluang melaksanakan hujan buatan karena ketersediaan awan di Lampung masih ada untuk penyemaian. Pekan depan kami targetkan koordinasi lanjutan selesai agar OMC dapat segera direalisasikan," ujar Rudy Sjawal Sugiarto, Jumat (7/8/2026).

img_title Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi Kamis Pagi, Visual Tertutup Kabut Namun Terekam Seismograf

Guna menangani krisis air bersih di kawasan terdampak, BPBD Lampung juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menyalurkan armada mobil tangki air, pembangunan sumur bor, serta pembuatan sistem pipanisasi di kabupaten/kota.

Berdasarkan laporan lapangan dan pantauan satelit NASA, titik panas (hotspot) serta kekeringan mulai meluas di hampir seluruh kabupaten se-Lampung. Di sektor lingkungan, BPBD mencatat peningkatan laporan karhutla sejak Juli lalu yang didominasi oleh kelalaian manusia, seperti pembakaran sampah sembarangan dan pembuangan puntung rokok.

"Ancaman terbesar ada pada sektor pertanian karena Lampung merupakan sentra pangan nasional. Selain itu, penurunan debit air sumur warga juga mulai dilaporkan di sejumlah daerah, termasuk Bandar Lampung," ungkap Rudy.

Menghadapi puncak musim kemarau, BPBD Lampung mengimbau masyarakat untuk bijak dalam mengonsumsi air bersih serta menghindari pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi kering selama beberapa bulan ke depan. (*)