Rupiah Melemah, Perajin Teralis di Lampung Selatan Keluhkan Harga Tiner dan Cat yang Meroket

Pengusaha bengkel las di Jati Agung terjepit lonjakan harga bahan baku.
Sumber :
  • Lampung.viva

Lampung Selatan, Lampung – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memukul sektor ekonomi mikro di daerah. Para pelaku usaha bengkel las di perkampungan kini kian terjepit akibat melonjaknya harga bahan baku impor yang memicu pembengkakan biaya operasional.

img_title Wapres Gibran Tinjau Tol Palembang–Betung dan Jambi, Dorong Akselerasi Koridor Utama Jalan Tol Trans Sumatera

Ironisnya, di tengah persaingan pasar yang kian kompetitif, para perajin besi ini tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk jadi karena dihantui risiko kehilangan pelanggan.

Kondisi sulit ini salah satunya dirasakan oleh para pekerja di bengkel las rumahan yang berada di pinggiran jalan Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (19/6/2026).

img_title Terlilit Utang Judi Online, Dua Tetangga Tega Rampok dan Bunuh Janda di Sawojajar: Pelaku Ditembak Polisi!

Iwan Irawan, salah satu pemilik bengkel las di Desa Karang Anyar, mengungkapkan bahwa fluktuasi dolar langsung berimbas pada meroketnya harga komponen utama seperti besi, cat, hingga cairan tiner di tingkat distributor. 

Komponen kimia seperti cat dan tiner menjadi komoditas yang mengalami kenaikan paling signifikan.

img_title BI Lampung Bekali Jurnalis Memahami Isu Ekonomi

"Dolar naik membuat harga bahan baku melonjak tajam. Di sisi lain, imbas lesunya ekonomi ini membuat daya beli masyarakat merosot drastis. Pesanan pembuatan pagar rumah, teralis jendela, pintu, hingga gerobak pedagang kaki lima menurun sangat signifikan," kata Iwan, Sabtu (20/6/2026).

Untuk menyiasati situasi yang tidak menguntungkan ini, para pelaku usaha harus memutar otak agar dapur rumah tangga mereka tetap mengepul. 

Naiknya harga modal terpaksa ditutupi dengan memangkas margin keuntungan demi menjaga loyalitas konsumen.

Tak jarang, ketika pesanan di bengkel sendiri sedang kosong, pemilik usaha terpaksa melemparkan diri menjadi pekerja lepasan (freelance) pada proyek rekan sejawat yang sedang kekurangan tenaga kerja.

Para pelaku usaha mikro di Jati Agung berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah taktis untuk menstabilkan kembali nilai tukar rupiah. 

Membaiknya stabilitas ekonomi nasional dinilai menjadi satu-satunya kunci agar daya beli masyarakat kembali bergairah dan menyelamatkan industri pengolahan besi rumahan dari ancaman gulung tikar. (*)