Kanker Usus Renggut 19 Ribu Nyawa Setahun, PGI Desak Program Skrining Nasional Terstruktur
- Istimewa
Bandar Lampung, Lampung – Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI) menyerukan aksi nyata penanganan kanker kolorektal (kanker usus besar) melalui penyusunan program skrining nasional yang terstruktur. Desakan ini mengemuka dalam ajang The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026 yang digelar di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Langkah agresif ini diambil menyusul tingginya beban kasus di dalam negeri. Berdasarkan data terbaru, kanker kolorektal kini menempati peringkat keempat dalam kasus baru dan kelima dalam angka kematian akibat kanker di Indonesia, dengan korban jiwa mencapai lebih dari 19 ribu orang setiap tahun akibat keterlambatan deteksi.
Ketua Pengurus Besar PGI, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya siap menjadi motor penggerak kebijakan, bukan sekadar wadah ilmiah.
PGI kini mempererat kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengadaptasi strategi dari negara-negara maju.
Dalam forum tersebut, President The Japanese Society of Gastrointestinal Cancer Screening, Prof. Takahisa Matsuda, memaparkan efektivitas metode deteksi dini tahunan menggunakan Fecal Immunochemical Test (FIT) atau uji darah samar pada tinja yang murah dan tidak korosif bagi warga usia di atas 40 tahun.
Sementara itu, Prof. Han-Mo Chiu dari National Taiwan University & Hospital membagikan kesuksesan Taiwan yang berhasil menurunkan hingga 35 persen angka kematian kanker usus sejak 2004 berkat integrasi sistem digital dan pengawasan mutu medis yang ketat.
"Keberhasilan program skrining tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh koordinasi sistemik yang terintegrasi. Taiwan membangun sistem call-recall, standarisasi laporan patologi, serta pengawasan kualitas kolonoskopi yang ketat, termasuk adenoma detection rate (ADR). Sejak 2025, kami bahkan menurunkan usia inisiasi skrining menjadi 45 tahun karena meningkatnya insiden early-onset CRC," jelas Prof. Chiu.
Menanggapi perbandingan tersebut, Kepala Human Cancer Research Centre (HCRC) IMERI FKUI, Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, mengakui Indonesia menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas kolonoskopi yang masif di banding populasi yang mencapai 281 juta jiwa.
Di akhir sesi diskusi panel yang dipandu oleh dr. Hasan Maulahela, para pakar menyepakati lima rekomendasi mendesak untuk pemerintah, yakni: implementasi bertahap program FIT terstruktur, peningkatan kapasitas mutu kolonoskopi, integrasi data registri kanker nasional, edukasi publik secara massal untuk mengikis ketakutan prosedur medis, serta penerapan stratifikasi risiko pasien.