Itera Terapkan Teknologi Pengering untuk Tingkatkan Mutu Kopra di Lampung Timur

Sesi foto bersama
Sumber :
  • Foto dokumentasi istimewa (Humas Itera)

Lampung – Tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) menerapkan teknologi indirect bed dryer untuk meningkatkan mutu produksi kopra di Desa Mekar Karya, Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur

img_title Lampung Timur Ubah Euforia Final Piala Dunia Menjadi Peluang Ekonomi

 

Teknologi pengering dengan sistem pemanasan tidak langsung ini ditujukan untuk menghasilkan kopra putih yang lebih higienis dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

img_title Demi Selamatkan Laptop Berisi Skripsi, Mahasiswi Unila Nekat Kejar dan Terseret Motor Komplotan Maling

 

Selama ini, sebagian besar sentra produksi kelapa masih mengandalkan metode pengasapan langsung. 

img_title Bikin Kaget Dewan Guru, Wapres Gibran Blusukan ke MTs dan MI Muhammadiyah Way Bungur Lampung Timur

 

Cara tersebut menyebabkan kopra berwarna gelap dan beraroma asap, sehingga kualitas minyak yang dihasilkan lebih cepat menurun, mudah tengik, serta memiliki daya simpan terbatas. 

 

Kondisi itu membuat kopra asap kalah bersaing dibandingkan kopra putih hasil pengeringan tidak langsung.

 

Melalui teknologi indirect bed dryer, sumber panas dipisahkan dari produk. Udara panas dihasilkan di ruang terpisah dan dialirkan secara merata ke potongan daging kelapa. 

 

Proses tersebut menghasilkan kopra berwarna putih, tanpa bau asap, dengan kadar air yang stabil dan mutu yang lebih seragam.

 

Fatikul Arif selaku ketua tim program mengatakan, penggunaan sistem pemanasan tidak langsung membuat kualitas kopra meningkat secara signifikan.

 

“Kopra yang dihasilkan berwarna putih, tidak berbau asap, lebih higienis, serta kadar airnya lebih stabil sehingga daya simpannya lebih panjang,” kata dia dalam keterangan tertulis dikutip, Senin (15/12/2025).

 

Selain meningkatkan mutu produk, mesin pengering ini juga memanfaatkan biomassa lokal, seperti tempurung dan sabut kelapa, sebagai bahan bakar. 

 

Menurut Fatikul, pemanfaatan limbah kelapa tersebut dapat menekan biaya produksi sekaligus mengurangi sisa limbah di tingkat desa.

 

“Bahan bakar berasal dari limbah kelapa yang sebelumnya tidak termanfaatkan, sehingga biaya operasional lebih efisien,” katanya.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Tahun Anggaran 2025.

 

Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian juga memberikan pelatihan pengoperasian dan perawatan mesin kepada masyarakat, serta pendampingan menjaga konsistensi mutu kopra. 

 

Pelatihan pengelolaan keuangan dasar usaha mikro turut diberikan guna mendukung keberlanjutan usaha dan meningkatkan nilai tambah produk kelapa di tingkat lokal.

Halaman Selanjutnya
img_title