Komunitas Gham Berdaya Gelar Workshop Sulam Jalin Kepang, Dorong Generasi Muda Lestarikan WBTB
- Istimewa
Lampung Tengah, Lampung – Komunitas Gham Berdaya, berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VII Bengkulu dan Lampung, sukses menggelar Workshop Kerajinan Tradisional Belajar Bersama Maestro Sulam Jalin Kepang.
Acara yang bertema "Merajut Warisan, Mengikat Kreativitas Untuk Bumi Jurai Siwo" ini berlangsung di Ruang Beguwai Jejamo Wawai (BJW) Kompleks Rumah Dinas Bupati, Gunung Sugih, pada 7–8 Desember 2025.
Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam melestarikan budaya di tengah arus modernisasi, khususnya kriya tradisional Sulam Jalin Kepang yang baru saja ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan.
Workshop ini menghadirkan tiga Maestro Sulam Jalin Kepang sebagai narasumber, yaitu Linggar Nunik Kiswari Kabid Kebudayaan Disdikbud Lampung Tengah, Umaidah Maestro Generasi ke-2, Novianita Maestro Generasi ke-3,
Founder Gham Berdaya, Dewa Gede Krisna, mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya keterlibatan generasi muda dalam pemajuan kebudayaan.
"Kita dihadapkan pada bonus demografi, namun aktivitas produktif dalam pemajuan kebudayaan dan kearifan lokal masih minim, khususnya generasi muda," ujarnya.
Dewa berharap workshop ini dapat mendorong pelajar untuk lebih peduli dan terlibat dalam pelestarian tradisi, sekaligus menginspirasi lahirnya inovasi baru dari para peserta.
Pamong Budaya BPK Wilayah VII Bengkulu Lampung, Eric Syah, S.S, menyatakan pentingnya transfer ilmu warisan budaya kepada generasi muda.
"Dalam kegiatan workshop kali ini alhamdulillah yang menjadi sasaran adalah generasi muda yang tentu akan mempunyai inovasi dan kreativitas sendiri nanti dalam membuat sebuah karya sulam jalin kepang," tutur Eric.
Sementara itu, Ibu Linggar Nunik Kiswari selaku narasumber, berbicara tentang pengaplikasian pelestarian di dunia pendidikan. Ia menyebut Sulam Jalin Kepang kini sudah menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah.
"Sehingga kedepannya pembelajaran kebudayaan seperti Sulam Jalin Kepang akan menjadi pembelajaran wajib untuk anak-anak Sekolah Menengah Pertama (SMP)," jelasnya.
Sebanyak 22 Siswa-Siswi SMA peserta workshop tidak hanya menerima sejarah Sulam Jalin Kepang, tetapi juga langsung mempraktikkan cara pembuatannya.
Dewa Gede Krisna menyampaikan terima kasih kepada BPK Wilayah VII dan seluruh pihak terkait yang telah mendukung terlaksananya program ini. Komunitas Gham Berdaya berharap kegiatan serupa dapat berlanjut di masa depan dengan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten dan stakeholder lainnya. (*)