Bikin Ngakak Sekaligus Terharu, Mertua Ngeri Kali Jadi Film Penutup Tahun yang Relatable

Salah satu scene di Mertua Ngeri Kali
Sumber :
  • Foto dokumentasi istimewa

Lampung – Menjelang penutupan tahun 2025, perfilman Indonesia menghadirkan sebuah tontonan yang ringan namun sarat makna melalui film drama komedi Mertua Ngeri Kali

img_title Sirkuit Sabah Balau Banjir Penonton, Wabup Syaiful Anwar Resmi Tutup Piala Bupati Lamsel Drag Race & Drag Bike 2026

 

Diproduksi oleh rumah produksi Im-a-gin-e, film ini mengajak penonton menyelami hiruk-pikuk kehidupan keluarga besar yang penuh konflik, canda, sekaligus kehangatan yang terasa dekat dengan keseharian masyarakat.

img_title Muhammadiyah Games 2026 Dimulai, Cabor Atletik Targetkan Jaring Atlet Berkarakter Qurani

 

Film ini berkisah tentang dinamika rumah tangga Raja yang diperankan Dimas Anggara dan Andara yang diperankan Naysilla Mirdad, yang harus berhadapan dengan sosok mertua dominan bernama Donda. 

img_title Kerap Nonton Film Porno, Pemuda di Pringsewu Tega Rudapaksa Pacar yang Masih SMP

 

Karakter tersebut diperankan oleh Bunda Corla yang untuk pertama kalinya tampil dalam debut layar lebar.

 

Penampilan Bunda Corla menjadi magnet utama film ini. Dengan karakter ceplas-ceplos dan penuh energi, ia menghadirkan komedi yang mengalir alami di hampir setiap adegan. 

 

Karakter Donda tidak hanya memancing tawa, tetapi juga menjadi penggerak utama konflik yang membuat cerita terasa hidup.

 

“Awalnya bingung karena tidak bisa menghafal skrip. Tapi saat syuting semuanya mengalir. Untung semua pemain bisa bertahan dengan ocehan saya,” ujar Bunda Corla saat ditemui di sela promosi film.

 

Di balik komedinya, Mertua Ngeri Kali menyajikan konflik yang sangat relevan bagi pasangan muda. 

 

Film ini memotret pergulatan antara karier, tuntutan keluarga, dan perbedaan generasi yang kerap memicu gesekan dalam rumah tangga. 

 

Keluarga digambarkan sebagai sumber persoalan, namun sekaligus menjadi tempat kembali yang paling hangat.

 

Alur cerita film ini tidak berhenti pada tawa semata. Unsur drama yang disisipkan perlahan membawa penonton pada pemahaman tentang kehilangan, proses saling memaafkan, serta penerimaan antargenerasi. Perpaduan emosi inilah yang membuat film ini meninggalkan kesan mendalam.

 

“Masuk bioskop dengan harapan tertawa karena Bunda Corla, tetapi keluar justru terharu. Tidak menyangka aktingnya bisa membuat menangis,” ungkap salah seorang penonton usai pemutaran perdana.

 

Kekuatan lain film ini terletak pada jajaran pemeran lintas generasi, seperti Gita Bhebhita, Sophie Navita, Siti Fauziah, Farrell Rafisqy, hingga Bonar Manalu. 

 

Kehadiran mereka membangun suasana keluarga Batak yang riuh, akrab, dan emosional, sehingga cerita terasa padat dan mengalir.

Halaman Selanjutnya
img_title