Peringatan dari BNPT: Ken Setiawan Imbau Umat Jangan Fanatik dan Taklid Buta dalam Beragama

Ken Setiawan memberikan materi program Desa Siap Siaga Nasional
Sumber :
  • Istimewa

Bandar Lampung, Lampung – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melanjutkan program Desa Siap Siaga Nasional di Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung, pada Rabu (25/9/2025). 

img_title Sangat Tinggi, Indeks Kerukunan Umat Beragama Lampung 2025 Tembus 80,36 Lampaui Nasional

Dalam acara yang bertujuan mencegah paham radikalisme ini, pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, menyampaikan pesan penting: bahaya fanatisme dan taklid buta dalam beragama.

Belajar Agama dengan Guru yang Salah, Pintu Gerbang Radikalisme

img_title Perkuat 'Sabuk Kamtibmas', Kapolres Lampung Selatan Gandeng Tokoh Agama Jaga Kondusivitas

Menurut Ken, faktor utama seseorang terpapar paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme adalah belajar agama dengan guru yang salah. 

Hal ini bisa memicu fanatisme dan taklid buta, yang menjadi pintu masuk awal bagi penyebaran doktrin sesat.

img_title Oknum Guru SD di Tulang Bawang Ditangkap, Diduga Cabuli 3 Siswi Saat Jam Pelajaran

Ken menekankan pentingnya menggunakan akal dan pengetahuan dalam memahami agama, bukan sekadar mengikuti orang lain tanpa dasar yang kuat. 

"Rata-rata orang yang terpapar intoleransi, radikalisme, dan terorisme adalah orang-orang yang memiliki semangat belajar agama tinggi, tetapi minim ilmu," tegas Ken. 

Ia mendefinisikan fanatisme sebagai sikap berlebihan dalam membela seseorang atau kelompok, sementara taklid buta adalah mengikuti orang lain tanpa menggunakan akal sehat.

"Kitab suci tidak salah, tapi tidak semua orang yang membawa kitab suci dan menafsirkannya pasti benar," bebernya.

Pemahaman Agama yang Sempit dan Dampaknya

Ken juga mengkritisi pemahaman agama yang sering dipersempit menjadi sekadar hukum halal-haram atau ritual saja, mengesampingkan aspek sosial, moral, dan kasih sayang yang menjadi pondasi utama.

Ia mencontohkan, banyak ceramah yang lebih sering menekankan "siapa kafir, siapa masuk neraka" ketimbang menceritakan kisah-kisah persaudaraan lintas agama yang dicontohkan Nabi Muhammad, seperti perjanjian Najran atau Piagam Madinah. 

Akibatnya, umat hanya mengenal Islam dalam versi hitam-putih, bukan sebagai agama yang damai dan penuh diplomasi.

Pemahaman yang sempit ini, menurut Ken, menyebabkan umat Islam yang mayoritas di Indonesia tidak mampu mengayomi, bahkan masih sering terjadi penolakan pembangunan rumah ibadah atau pelarangan kegiatan keagamaan.

Tragedi Kemanusiaan atas Nama Agama

Ken menyebut, banyak laporan masuk ke NII Crisis Center dari orang tua korban radikalisme yang menyebut fenomena ini sebagai "tragedi kemanusiaan atas nama agama".

Halaman Selanjutnya
img_title