Dikebut, Proyek Mitigasi Gajah di Way Kambas Ditarget Rampung Pertengahan September

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto bersama Kabalai TNWK
Sumber :
  • Foto Dokumentasi Riduan

Lampung – Pembangunan fasilitas mitigasi dan penanganan interaksi negatif gajah Sumatra di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terus dikebut. Hingga saat ini, progres pekerjaan telah mencapai 75,81 persen.

img_title Tekan Angka Kecelakaan Jelang Nataru, Polisi Soroti 94 Kasus Kelalaian dan Perkuat Kolaborasi Lintas Instansi

 

Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, mengatakan pengerjaan sempat terkendala kelangkaan besi dan pasokan semen. Hambatan material itu membuat pekerjaan tertunda hampir dua pekan.

img_title Pagar Sarang Lebah Jadi Jurus Baru Redam Konflik Gajah di Way Kambas

 

“Memang kita sempat mengalami kendala terkait dengan kelangkaan besi. Itu kendala utama kita. Semen juga sempat ada masalah,” kata Sriyanto, Selasa (1/9/2026). 

img_title Saat Way Kambas Belajar Berdamai dengan Gajah: Dari Lebah, Sereh hingga Mahot ke Thailand

 

Kendala tersebut kini telah mendapatkan solusi. Pekerjaan kembali dipacu dengan mengerahkan tambahan sumber daya manusia dan peralatan. Pengerjaan juga dilakukan hingga lembur untuk mengejar target penyelesaian.

 

Semula, sejumlah pekerjaan ditargetkan selesai pada 31 Agustus 2026. Namun, target itu bergeser. Pekerjaan utama kini ditargetkan rampung pada pekan kedua September.

 

Adapun view tower mendapat tenggat khusus karena berkaitan dengan aspek keselamatan. Fasilitas tersebut ditargetkan selesai pada pekan ketiga September.

 

“Secara keseluruhan 100 persen di minggu ketiga bulan September,” ujar Sriyanto.

 

Pembatas Jadi Bagian Penting

 

Salah satu pekerjaan yang menjadi perhatian adalah pembangunan tanggul atau pembatas. Infrastruktur ini menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi interaksi negatif antara gajah dan manusia di sekitar kawasan TNWK.

 

Sriyanto mengatakan kondisi di bagian utara kawasan menjadi salah satu tantangan. Tanah yang labil dan lokasi yang berbatasan dengan sungai membuat pembangunan tanggul membutuhkan perhatian khusus.

 

“Tanggul ini merupakan faktor kritis juga jadi perhatian. Kalau dilihat di bagian utara, tanahnya labil, berbatasan dengan sungai juga,” kata dia.

 

Pembangunan pembatas ditargetkan selesai pada pekan kedua September. Setelah proyek selesai dan diresmikan, pemeliharaan akan tetap dilakukan selama 12 bulan.

 

Pemeliharaan itu mencakup perbaikan apabila terdapat kerusakan pada fasilitas yang telah dibangun.

 

Warga Disiapkan Sumber Penghasilan

 

Pembangunan di kawasan TNWK tidak hanya berorientasi pada infrastruktur. Masyarakat sekitar juga disiapkan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari program yang berjalan bersamaan dengan proyek mitigasi.

 

Salah satunya melalui budi daya lebah. Sebanyak 900 kotak lebah telah diserahkan kepada masyarakat dan seluruhnya telah memasuki masa panen.

Halaman Selanjutnya
img_title