Saat Ponsel Jadi Medan Bela Negara, Pangdam Ingatkan Mahasiswa Unila soal Perang Informasi
- Foto dokumentasi istimewa
Lampung – Ponsel yang setiap hari berada di tangan generasi muda kini menjadi salah satu medan baru dalam upaya bela negara. Di ruang digital, informasi dapat menyebar dalam hitungan detik dan memengaruhi cara masyarakat melihat sebuah persoalan.
Pesan itu disampaikan Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi kepada 9.450 mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila) dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 di Gedung Serba Guna Unila, Selasa, 11 Agustus 2026.
Sebanyak 4.000 mahasiswa mengikuti pembekalan secara langsung, sementara 5.450 mahasiswa lainnya mengikuti kegiatan secara daring.
Kristomei mengatakan ancaman terhadap ketahanan bangsa tidak selalu hadir dalam bentuk konflik bersenjata. Perkembangan teknologi telah memunculkan medan baru berupa perang informasi di ruang digital.
“Bela negara zaman sekarang bukan lagi semata-mata tentang senapan dan tank. Medan perjuangan telah berubah. Perang informasi kini berada dalam genggaman kita melalui telepon seluler,” kata Kristomei.
Ia meminta mahasiswa tidak menjadikan jumlah tanda suka, komentar, atau banyaknya orang yang membagikan sebuah informasi sebagai ukuran kebenaran. Menurut dia, informasi yang viral belum tentu benar dan dapat membentuk persepsi publik.
Karena itu, mahasiswa diminta tidak terburu-buru mempercayai ataupun menyebarkan informasi. Mereka perlu membaca secara utuh, memeriksa sumber, mempertanyakan informasi, dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan.
Bela Negara Tidak Harus Berseragam
Dalam pembekalan bertajuk “Bela Negara Jaman Now”, Kristomei juga mengingatkan lima nilai dasar bela negara, yakni cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia kepada Pancasila, rela berkorban, serta memiliki kemampuan awal bela negara.
Menurut dia, bela negara tidak identik dengan kegiatan militer. Mahasiswa dapat mengambil peran melalui ilmu pengetahuan, profesi, keterampilan, maupun karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Apa pun pekerjaan dan keahlian kita, selama memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara, itu merupakan bagian dari bela negara,” ujarnya.
Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan ruang digital secara lebih produktif. Media sosial, kata dia, tidak seharusnya hanya menjadi tempat menerima dan membagikan informasi, tetapi juga dapat digunakan untuk menghasilkan karya, menyebarkan informasi yang bermanfaat, serta memperkuat persatuan.