Kekeringan Melanda Pringsewu, Bagaimana Nasib Petani

Sawah kekeringan di Pekon Pandansurat Pringsewu
Sumber :
  • Nanang

Pringsewu, Lampung – Kekeringan yang melanda disejumlah wilayah Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Lampung membuat para petani menguras dompet.

img_title Hadiri Panen Raya Patin di Lampung Selatan, Gubernur Mirza dan Bupati Egi Dorong Desa Margolestari Jadi Pilot Project


Hal tersebut berdasarkan pantauan dilokasi area persawahan di Pekon Pandansurat Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Lampung.

Padi yang berusia sekitar 15 hari harus mengalami kekeringan akibat tidak adanya curah hujan.

img_title Polri Merakyat, Sosok Kapolres Seberangkan Anak Sekolah



"Kering mas, ini sangat mempengaruhi pertumbuhan padi usai masa tanam. Selama ini kami hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi area persawahan. Dan, saat ini sangat berdampak pada pertumbuhan. Ibarat hidup segan mati tak mau," ucap Ali kepada lampung.viva.co.id, Rabu (03/06/26).


Menurutnya, kekeringan saat ini terlihat lebih parah dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya.

img_title Ceria Anak-Anak Sragi Sambut Makan Bergizi Gratis, Bupati Radityo Egi Resmikan SPPG 3T Bandar Agung

Dan, saluran air drainase pun sudah tidak ada airnya, karena itu sekarang kami para petani harus berfikir keras agar tidak mengalami kegagalan.

"Sawah tadah hujan, drainase kering. Kami para petani sudah bercocok tanam dan hasilnya seperti ini sekarang. Kalau yang ada sumur bor bisa mengaliri area persawahan dan bagi tidak ada sumur mau bagaimana lagi," ucapnya.



Dan, kata Ali bagi para petani yang ada sumur bor bisa terus mengaliri sawahnya. Namun, biaya yang ditanggung akan lebih besar.

"Saat ini biaya terus bertambah, karena setiap sore harus nyedot menggunakan alkon dan semua itu perlu biaya besar hingga sampai panen," jelasnya.

Sedangkan, bagi para petani yang hanya mengandalkan air hujan untuk mengaliri area persawahan hanya bisa pasrah diri dengan kondisi cuaca saat ini sekalipun biaya yang sudah dikeluarkan sudah cukup besar untuk tanam.

"Kalau sawah yang tadah hujan hanya pasrah karena mau mengandalkan apa lagi. Padahal, biaya yang sudah dikeluarkan cukup besar, mulai dari bajak, tanam dan pupuk. Dan, para petani disini sebagian besar hanya mengandalkan dari hasil panen untuk biaya pendidikan, makan dan lain lain," keluhnya.

Ali pun berharap akan kepedulian dari pemerintah daerah untuk memperhatikan nasib para petani saat ini. Selain itu, ketahanan pangan jangan sampai menjadi hambatan karena kekeringan.

"Persoalan kekeringan inikan terjadi bukan hanya tahun ini aja dan hampir setiap tahun terjadi. Tapi, kenapa seakan akan ada pembiaran tanpa ada kepedulian. Bagaimana nasib kami para petani," tutupnya. (*)

Halaman Selanjutnya
img_title