Meski Harga Pertamina Dex Naik, ESDM Lampung Pastikan Antrean Biosolar Tetap Normal
- Istimewa
Bandar Lampung, Lampung – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung memastikan distribusi dan kuota BBM subsidi jenis Biosolar tetap terkendali pasca kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex per 18 April 2026.
Hingga saat ini, belum ditemukan adanya lonjakan konsumsi maupun antrean signifikan di SPBU, Senin (20/4/2026).
Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Lampung, Sopan Sopian Atiek, mengatakan hingga saat ini kondisi penyaluran dan kuota Biosolar masih dalam batas normal, bahkan cenderung sedikit di atas target penyaluran.
"Pengguna BBM nonsubsidi hanya sekitar 5 persen dan rata-rata mobil pribadi keluaran terbaru. Risiko kerusakan mesin membuat konsumen cenderung bertahan, sehingga potensi pergeseran ke Biosolar sangat kecil, hanya berkisar 1–2 persen," ujar Sopian.
Menurutnya, kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak serta-merta memicu lonjakan konsumsi Biosolar.
Hal ini karena pengguna Dexlite dan Pertamina Dex didominasi kendaraan pribadi, khususnya mobil diesel keluaran terbaru dengan spesifikasi tertentu.
"Pengguna BBM nonsubsidi itu tidak lebih dari 5 persen. Rata-rata mobil pribadi, bahkan mobil-mobil baru yang memang harus menggunakan Dex atau Dexlite. Jadi potensi migrasi ke Biosolar sangat kecil," jelasnya.
Ia memperkirakan, jika pun terjadi perpindahan konsumsi ke Biosolar, angkanya hanya berkisar 1–2 persen.
Selain itu, penggunaan Biosolar pada kendaraan modern berisiko merusak mesin, sehingga konsumen cenderung tetap bertahan menggunakan BBM nonsubsidi.
Lebih lanjut, Sopian juga menepis kekhawatiran terkait lonjakan antrean atau kelangkaan Biosolar pasca kenaikan harga BBM nonsubsidi. Hingga dua hari setelah kebijakan berlaku, belum ditemukan gejolak di lapangan.
“Kita masih pantau. Nanti di akhir bulan akan kita review, apakah ada pergeseran konsumsi atau tidak. Tapi sejauh ini belum ada indikasi lonjakan,” katanya.
Di sisi lain, potensi penyalahgunaan Biosolar untuk kepentingan industri tetap menjadi perhatian.
Ia menyebut praktik penyelewengan biasanya melibatkan oknum yang memanfaatkan selisih harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi.
Namun demikian, upaya penindakan oleh aparat penegak hukum dinilai cukup efektif menekan praktik tersebut.
“Sekarang Polda sedang gencar melakukan razia dan sudah banyak kasus yang terungkap. Harapannya ini bisa mengurangi praktik penyelewengan Biosolar di SPBU,” tegasnya.