Merajut Kebersamaan di Sore Ramadan: Buka Puasa Bersama Anak Yatim di Desa Banjar Agung
- Foto dokumentasi istimewa
Lampung – Sore itu, langit di Desa Banjar Agung, Kecamatan Sekampung Udik, perlahan memudar keemasan. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan aroma khas Ramadan yang hangat.
Dari tiga desa—Banjar Agung, Toba, dan Bojong—warga berduyun-duyun datang, memenuhi halaman sederhana yang disulap menjadi ruang penuh makna.
PT Sarana Global Quarry memilih momen ini untuk menggelar buka puasa bersama sekaligus memberikan santunan kepada anak-anak yatim, Kamis (5/3/2026).
Namun, yang terjadi jauh lebih dari sekadar kegiatan formal: ruang itu menjadi saksi harapan, kepedulian, dan rasa syukur yang menyatu.
Doa bersama dipimpin oleh tokoh agama setempat. Suasana hening sejenak, setiap lirih doa mengalir, menyatukan hati para hadirin.
Wajah anak-anak yatim tampak khidmat, mata mereka berbinar, seolah menggenggam asa yang lebih besar dari usia mereka.
Budi Santoso, Direktur PT Sarana Global Quarry, berdiri di tengah warga dengan raut hangat. Ia tahu, keberadaan perusahaan tak akan bermakna tanpa dukungan masyarakat sekitar.
“Buka puasa bersama ini bukan hanya agenda tahunan, tetapi bagian dari upaya kami merawat hubungan dengan masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan perusahaan,” ujarnya sambil menatap kerumunan yang hadir.
Ramadan, menurut Budi, menjadi momentum paling tepat untuk menumbuhkan empati. “Kami ingin hadir lebih dekat, berbagi kebahagiaan, terutama dengan anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih,” tambahnya.
Tak jauh dari Budi, Khairul Mukmin, CEO PT Sarana Global Quarry, melihat momen itu dari perspektif tanggung jawab moral.
“Ramadan mengajarkan arti berbagi yang sesungguhnya. Hari ini kami tidak hanya memberi, tapi juga belajar dari ketulusan masyarakat,” ujarnya.
Senyum anak-anak menjadi energi yang tak ternilai bagi mereka. Saat santunan diserahkan secara simbolis, suasana berubah menjadi haru.
Sebagian anak tersenyum malu-malu, sebagian lain tak bisa menahan gembira. Mata mereka berbinar, menjadi pengingat bahwa setiap bantuan, sekecil apa pun, berarti besar bagi hidup mereka.
Menjelang azan magrib, kebersamaan semakin terasa. Warga duduk berdampingan tanpa sekat, bercengkerama ringan, tertawa kecil, dan menikmati hidangan berbuka.