Fenomena Berburu Takjil: Ritual Sosial dan Digital Detox Ala Anak Muda di Bulan Ramadan

Fenomena berburu takjil.
Sumber :
  • Istimewa

Lampung Selatan, Lampung – Di tengah gempuran kemudahan layanan pesan antar daring, generasi Z dan milenial justru menunjukkan antusiasme tinggi untuk berburu takjil secara langsung di pinggir jalan. 

img_title Hari Bhayangkara ke-80, Satlantas Polres Lampug Selatan Bagikan 400 Paket Sembako ke Sopir Ojek hingga Buruh

Fenomena ini bukan sekadar tren media sosial, melainkan telah menjelma menjadi ritual sosial yang sakral bagi anak muda di berbagai daerah.

Berdasarkan riset terbaru dari Populix bertajuk "Berburu Takjil Menurut Gen Z dan Milenial", kegiatan berburu takjil telah menjadi tradisi Ramadan yang tidak tergantikan. 

img_title Dua Dekade Bertahan, Vega Lampung Club Jaga Tradisi Persaudaraan

Data menunjukkan lebih dari separuh responden membeli takjil secara langsung hampir setiap hari selama bulan suci.

Bagi anak muda, berburu takjil menawarkan pengalaman sensorik yang tidak bisa diberikan oleh aplikasi digital, mulai dari aroma gorengan yang baru diangkat, riuhnya suasana sore hari, hingga antrean panjang yang menjadi daya tarik tersendiri.

img_title Perangi Narkoba, Polres Lamsel Resmikan Desa Trimomukti Candipuro Jadi 'Desa BENAR'

Fenomena ini juga dikaitkan dengan konsep Joy of Missing Out (JOMO), yakni kebahagiaan saat seseorang memilih meninggalkan aktivitas digital untuk menikmati pengalaman nyata. Aktivitas ini secara alami menjadi bentuk digital detox kolektif di tengah arus modernisasi.

"Berburu takjil bagi Gen Z bukan sekadar membeli makanan untuk berbuka, melainkan sebuah ritual sosial yang memperkuat rasa kebersamaan dan menghadirkan makna mendalam dalam perayaan Ramadan," tulis laporan riset tersebut.

Secara etimologis, takjil berasal dari kata bahasa Arab ‘ajila yang berarti menyegerakan. Di Indonesia, makna ini bergeser menjadi ragam kudapan berbuka. 

Kehadiran lapak takjil di trotoar maupun alun-alun menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

Di tengah gempuran teknologi, interaksi fisik di lapangan terbukti tetap menjadi kebutuhan yang dirindukan. 

Aktivitas berburu takjil membuktikan bahwa tradisi kebersamaan tetap menjadi elemen penting yang membuat Ramadan terasa lebih utuh dan bermakna bagi generasi muda saat ini. (*)