Mengenal Ayatollah Ali Khamenei: Sosok Otoritas Tertinggi Iran yang Tewas dalam Serangan AS-Israel

Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran.
Sumber :
  • Istimewa

Bandar Lampung, Lampung – Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei (86) dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026), menandai berakhirnya era kepemimpinan paling berpengaruh di Iran selama lebih dari tiga dekade. 

img_title Hanya Dua Meter dari Lokasi Hilang, Tim SAR Gabungan Temukan Nelayan Tenggelam di Pulau Rimau

Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia merupakan otoritas tunggal yang memegang kendali atas militer, peradilan, dan arah kebijakan luar negeri Iran.

Perjalanan Hidup dan Revolusi

img_title Kecelakaan Maut Tol Terpeka KM 187: Satu Keluarga asal Lahat Tewas, Hanya Anak Perempuan 17 Tahun yang Selamat

Lahir di Mashhad pada 19 April 1939, Khamenei tumbuh dalam keluarga religius. Ia bergabung dengan gerakan Ayatollah Ruhollah Khomeini melawan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada awal 1960-an, yang membuatnya berkali-kali ditangkap oleh dinas intelijen SAVAK. 

Pasca-Revolusi Islam 1979, kariernya melejit; ia menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode (1981–1989) sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi menggantikan Khomeini pada 1989.

img_title Tabrkan Truk Singkong dengan Truk Pasir di Jalintim Tulang Bawang, 3 Pekerja Tewas, Satu Keluarga Luka-Luka

Otoritas dan Ideologi

Khamenei dikenal sebagai sosok yang teguh menjaga kedaulatan Iran dari pengaruh Barat. Di bawah pemerintahannya, Iran menavigasi masa-masa sulit seperti sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, hingga konfrontasi intensif dengan Washington dan Tel Aviv.

Gaya kepemimpinannya mencerminkan sistem politik yang kaku terhadap perbedaan pendapat dan reformasi. Masa jabatannya diwarnai oleh ketegangan politik domestik, mulai dari pemilihan umum 2009 hingga gelombang protes nasional pada 2022 dan akhir 2025 yang menuntut perubahan sosial dan perbaikan ekonomi.

Strategi Nuklir dan Poros Perlawanan

Salah satu pilar utama kebijakan Khamenei adalah mempertahankan program nuklir, yang ia sebut sebagai "hak yang tak terbantahkan." 

Ia secara konsisten bersikap skeptis terhadap keterlibatan diplomatik dengan Barat, terutama setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir (JCPOA) pada 2018.

Di tingkat regional, Khamenei adalah arsitek utama "Poros Perlawanan." Ia membangun aliansi dengan kelompok-kelompok bersenjata seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, serta faksi-faksi di Irak dan Yaman. 

Baginya, dukungan terhadap Palestina adalah isu sentral, dan ia tetap menjadi kritikus paling vokal terhadap eksistensi Israel dan kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Akhir Era

Kematian Khamenei menghilangkan tokoh sentral yang membentuk identitas ideologis dan militer Iran modern. 

Ia meninggalkan negara yang kini berada di persimpangan jalan; menghadapi suksesi kepemimpinan yang penuh ketidakpastian di tengah meningkatnya tensi militer dan krisis diplomatik global. (*)