Menag di PNM: Ramadan Bukan Sekadar Ibadah, tapi Titik Balik Perbaikan Diri
- Foto dokumentasi istimewa
Jakarta – Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menyampaikan pesan yang menekankan makna Ramadan sebagai momentum perubahan.
Dalam kunjungannya ke Menara PNM, Jakarta, ia mengajak Keluarga Besar PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadikan bulan suci bukan hanya sebagai rutinitas ibadah, melainkan sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas diri dan cara berkontribusi bagi masyarakat.
Di hadapan jajaran manajemen dan Insan PNM, Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa keteladanan Rasulullah harus tercermin dalam setiap aktivitas, termasuk dalam bekerja dan melayani.
Spiritualitas, menurutnya, tidak berhenti pada ritual, tetapi harus menjelma menjadi etos kerja dan kepedulian sosial.
“Semoga Ramadan kali ini menjadi Ramadan yang lebih baik, termasuk dalam mendapatkan pertaubatan yang juga lebih baik, sehingga masa depan dunia dan akhirat pun menjadi lebih baik,” ujar Nasaruddin Umar.
Pesan itu langsung diwujudkan dalam aksi nyata melalui penyerahan santunan kepada anak-anak nasabah PNM Mekaar yang telah menjadi yatim.
Doa dan dukungan diberikan agar mereka tetap memiliki harapan dan kekuatan menatap masa depan.
Momen tersebut menjadi simbol bahwa nilai spiritual harus berjalan beriringan dengan keberpihakan kepada kelompok yang membutuhkan.
Direktur Utama PNM Arief Mulyadi menyambut kunjungan tersebut sebagai energi baru bagi perusahaan.
Ia berharap kolaborasi dengan Kementerian Agama dapat diperluas, terutama dalam optimalisasi dana sosial seperti zakat dan wakaf untuk mendukung nasabah PNM Mekaar dari kalangan prasejahtera.
PNM sendiri terus memperkuat pembiayaan berbasis syariah. Saat ini, sekitar 73 persen penyaluran pembiayaan telah menggunakan prinsip syariah, dengan lebih dari 80 persen sumber pendanaan berasal dari sukuk dan obligasi yang didukung 46 bank di Indonesia.
“Secara praktis, 16 juta nasabah aktif yang kami biayai saat ini merupakan kelompok mustadhafin. Potensi dana sosial seperti zakat dan wakaf tentu bisa menjadi penguat bagi mereka,” kata Arief.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi dan penguatan spiritual bukan dua hal yang terpisah.
Di ambang Ramadan, pesan yang mengemuka di Menara PNM sederhana namun tegas: perbaikan diri harus berbuah pada tindakan nyata, dan harapan masa depan dibangun dari kepedulian hari ini. (*)