Jembatan Harapan di Way Umbar Lampung: Ketika Gotong Royong Menyatukan Dua Tepian

Progres pembangunan
Sumber :
  • Foto dokumentasi istimewa

Lampung – Di bawah langit mendung Sungai Way Umbar, suara denting besi dan tarikan seling terdengar bersahut-sahutan. 

img_title TNI-Polri di Lampung Tegaskan Tetap Solid Jaga Stabilitas

 

Di sanalah, di Pekon Umbar, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, sebuah jembatan gantung perlahan menjelma—bukan sekadar rangka baja, melainkan harapan baru bagi warga yang selama ini terpisah oleh derasnya arus sungai.

img_title BI Lampung Bekali Jurnalis Memahami Isu Ekonomi

 

Jembatan Gantung Garuda, demikian warga menyebutnya, kini telah mencapai progres pembangunan sekitar 45 persen. 

img_title Mencari Keadilan, Keluarga Korban Pembunuhan Minta Bantuan Hotman Paris

 

Sejak pagi, Selasa (23/12/2025), puluhan orang dari berbagai latar belakang bergotong royong menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan. 

 

Mereka berasal dari Tim Vertical Rescue Indonesia (VRI) Jembatan Garuda, unsur TNI dan Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat setempat.

 

Bagi warga Pekon Umbar, keberadaan jembatan ini bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar. 

 

Selama bertahun-tahun, sungai menjadi batas alami yang kerap menyulitkan aktivitas harian—mulai dari mengangkut hasil pertanian, mengantar anak ke sekolah, hingga menjangkau layanan kesehatan.

 

Panglima Kodam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menyebut pembangunan jembatan gantung ini sebagai bagian dari komitmen TNI dalam menghadirkan pemerataan pembangunan, terutama di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.

 

“Jembatan ini dibangun untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Akses yang lebih baik akan memperlancar mobilitas warga dan mendorong peningkatan kesejahteraan,” ujar Kristomei.

 

Secara teknis, pembangunan jembatan terus menunjukkan kemajuan signifikan. Penggalian lubang anchor bentangan bawah, pembuatan garpu, serta anchor telah diselesaikan sepenuhnya. 

 

Sementara itu, pembentangan seling utama telah mencapai 60 persen. Tahapan berikutnya, seperti pemasangan papan lantai, ram kawat, serta gelagar melintang dan memanjang, akan dilakukan sesuai jadwal dan standar teknis yang telah ditetapkan.

 

Namun, bagi Kristomei, jembatan ini bukan semata soal kecepatan penyelesaian. Aspek keselamatan dan ketahanan konstruksi menjadi perhatian utama agar jembatan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

 

“Kami memastikan seluruh proses dikerjakan sesuai standar agar jembatan ini aman dan kuat digunakan oleh masyarakat,” katanya.

 

Sebanyak 49 personel terlibat dalam pembangunan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, termasuk BPBD, Tagana, aparat pekon, serta warga sekitar. 

 

Kolaborasi lintas sektor ini mencerminkan kuatnya semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat Lampung.

Halaman Selanjutnya
img_title