Sebulan Kayu Gelondongan Terdampar di Pesisir Barat, Nelayan Harap Kompensasi dan Tindakan

Kayu yang Terdampar di bibir Pantai Tanjung Setia
Sumber :
  • Foto Dokumentasi Riduan

Lampung – Sudah satu bulan lebih tongkang bertuliskan Ronmas 69 bermuatan 4.800 kubik kayu gelondongan terdampar di Pantai Tanjung Setia, Pesisir Barat, Lampung. 

img_title Status Waspada Level II, Sat Polairud Lamsel dan BKSDA Larang Wisatawan Dekati Anak Gunung Krakatau

 

Alih-alih tertangani, keberadaan kapal raksasa yang kandas akibat cuaca ekstrem itu kini berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan dan mata pencaharian nelayan.

img_title Sat Polairud Polres Lampung Selatan Patroli Gunung Anak Krakatau, Wisatawan Diimbau Tidak Mendekat

 

Video warga memperlihatkan kondisi tongkang yang kian memprihatinkan. Tumpukan kayu meranti dan keruing masih memenuhi dek, sementara satu unit alat berat tampak tak bergerak di atasnya. 

img_title Satu Jenazah ABK KM Arof Dievakuasi dari Pantai Way Kambas, Nakhoda Masih Hilang

 

Gelombang tinggi sepanjang November hingga awal Desember membuat sebagian kayu terseret arus dan berserakan di bibir pantai.

 

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun, menjelaskan tongkang tersebut berangkat dari Sumatra Barat pada 2 November menuju Pulau Jawa. 

 

Namun baru empat hari berlayar, kapal terdampak cuaca buruk dan tali penariknya terlilit, lalu terhanyut hingga akhirnya kandas di Tanjung Setia.

 

Masalah muncul ketika bangkai tongkang ini dibiarkan selama berminggu-minggu tanpa kejelasan penanganan. 

 

Nelayan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Potongan kayu besar yang terbawa ombak sering menabrak perahu, terutama saat malam dan gelombang tinggi.

 

“Hampir sebulan kami tidak tenang melaut. Kayu-kayu itu bisa menghantam perahu kapan saja. Malam hari kami harus berjaga, tidak bisa pergi,” ungkap Zainal, salah satu nelayan setempat, Minggu (7/12/2025).

 

Beberapa perahu nelayan sudah dilaporkan rusak akibat hantaman kayu, dan aktivitas mencari ikan terpaksa dikurangi demi keselamatan. Situasi ini membuat penghasilan nelayan merosot tajam.

 

Para nelayan mendesak pemilik tongkang dan pemerintah segera bertindak. 

 

Mereka menuntut kejelasan, penanganan cepat, serta kemungkinan kompensasi atas kerugian yang sudah dirasakan selama hampir satu bulan kapal itu dibiarkan terdampar. (*)