Way Kambas Tak Lagi Cuma Soal Gajah
- Foto dokumentasi istimewa
Lampung – Nama Taman Nasional Way Kambas (TNWK) selama ini identik dengan gajah sumatra. Namun, kawasan konservasi di Lampung Timur itu mulai menunjukkan daya tarik lain: wisata berbasis keanekaragaman hayati yang melibatkan masyarakat desa penyangga.
Di Desa Labuhan Ratu IX, misalnya, wisatawan mulai datang bukan hanya untuk melihat gajah. Mereka menyusuri sungai, mengamati burung, menikmati bentang alam, sekaligus mengenal kehidupan masyarakat yang berada di sekitar kawasan konservasi.
Peluang itu dikembangkan Koperasi Plangijo Dewi Rasa melalui wisata minat khusus dengan fokus pada bird watching dan susur sungai.
Ketua Koperasi Plangijo Dewi Rasa, Arif Lukman Fauzun, mengatakan pilihan tersebut merupakan upaya keluar dari ketergantungan terhadap citra Way Kambas sebagai destinasi wisata gajah.
"Kami memang agak keluar dari zona nyaman. Kalau Way Kambas kan jualannya biasanya gajah, enggak jauh dari gajah. Nah, kami memilih untuk fokusnya di konservasi burung," kata Arif, Rabu, 30 September 2026.
Pilihan itu, kata Arif, justru menemukan pasar tersendiri. Kunjungan wisatawan yang khusus datang untuk mengamati burung meningkat, terutama pada Juni hingga September.
Para wisatawan tersebut merupakan bagian dari komunitas pengamat burung yang melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Indonesia untuk mengamati avifauna.
"Ternyata malah segmentasinya on target. Akhirnya ketemulah dengan komunitas-komunitas pengamat burung yang memang setiap musim panas berkeliling di Indonesia," ujarnya.
Menurut Arif, wisatawan pengamat burung biasanya menghabiskan waktu cukup panjang untuk menjelajahi sejumlah wilayah di Indonesia, mulai dari Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, Bali, hingga Jawa sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumatra.
"Masuk ke Sumatranya biasanya ke Way Kambas dulu," kata dia.
Konservasi dan ekonomi desa
Bagi Lampung Timur, berkembangnya wisata berbasis alam membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa penyangga. Namun, aktivitas tersebut tetap harus berjalan dalam koridor konservasi.
Bupati Lampung Timur Siti Ela Nuryamah mengatakan masyarakat di sekitar kawasan perlu mendapatkan ruang untuk berkembang tanpa mengorbankan fungsi utama TNWK sebagai kawasan konservasi.
"Way Kambas bukan hanya aset Lampung Timur, tetapi juga bagian penting dari kekayaan alam Indonesia. Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan harus mendapatkan ruang untuk berkembang melalui kegiatan yang tetap sejalan dengan prinsip konservasi," ujar Siti Ela.